Jujur
Sesungguhnya As-Sidqhu menjadi ciri khas ahlul ilmi dan takwa. Alloh ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang sidiqin (benar), laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Alloh, Alloh Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.(QS. Al-Ahzab: 35).
Maka barang siapa yang memiliki seluruh sifat yang agung ini, bahkan telah menjadi pakaian dan perhiasannya maka benar-benar ia telah beruntung. Kita berdoa kepada Alloh ta’ala semoga Dia menjadikan kita termasuk dari mereka.
Alloh ta’ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar terus bersama orang-orang yang jujur (shiddiqin) dan menetapi kejujuran dalam setiap keadaannya. Kejujuran adalah jalan keselamatan dari kehidupan dunia dan adzab akhirat. Alloh ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang sidiqin”. (QS. At-Taubah: 119).
Termasuk bukti keutamaan kejujuran dan orang-orang yang benar adalah jeleknya tempat kembali bagi para pembohong, dan sesungguhnya bohong adalah bagian dari sifat orang munafik Naudzu billahi.
Dalam shahih Bukhari dan Muslim disebutkan, dari Abdullah bin Amrradhiyallahu’anhu bahwasanya Nabi sholallohu alaihi wassalam bersabda: “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, apabila berbicara selalu bohong, jika berjanji menyelisihi, dan jika dipercaya khianat”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat yang lain di sebutkan: “Empat perkara, barang siapa dalam dirinya terdapat hal itu maka dia adalah orang munafik tulen, dan barang siapa yang memiliki salah satu darinya, berarti dalam dirinya terdapat sifat orang munafik hingga ia meninggalkannya… (kemudian di sebutkan diantaranya, yaitu; bohong)”.(HR. Bukhari dan Muslim).
Kejujuran Dalam Islam
Jujur dalam islam adalah jalan Al-Bir (kebaikan) dan jalan surga, demikian juga sebaliknya bohong adalah jalan kedzaliman dan neraka –Naudzubillahi-. Dalam shahih Bukhori dan Muslim di sebutkan, dari Nabi sholallohu alaihi wassalam beliau bersabda:“Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan menunjukkan kepada surga, dan sesungguhnya seorang laki-laki benar-benar telah jujur hingga ia di catat di sisi Allah sebagai orang jujur. Sesungguhnya kebohongan itu menunjukkan kepada kedzaliman. Dan sesungguhnya kedzaliman itu menunjukkan kepada neraka, dan sesungguhnya seorang laki-laki telah berbuat dusta hingga ia I catat disisi Allah sebagai pendusta”.
Medan Kejujuran
Medan perbuatan jujur yang paling utama ada tiga, yaitu:
- Jujur dalam niat, yakni kemurnian niat dan benarnya azimah / tekad, dan tetapnyairodah / kehendak.
- Benar dalam ucapan yakni hanya mengucapkan kebenaran dan membuang kebatilan, laghwu dan lahwu (sia-sia dan tiada guna) yang diharamkan.
- Benar dalam amal yakni dengan menyesuaikan ucapan dengan perbuatan, sedang persesuaiannya adalah dengan petunjuk Kitabullah dan Sunnah Rasulullah sholallohu alaihi wassalam.
Berikut ini akan kami bahas ketiga medan jujur tersebut dengan secara rinci :
- Benar/jujur dalam niat dan kehendak (tujuan). Benar dalam niat dan tujuan menuntut keikhlasan niat hanya karena Allah ‘azzawajall, niat dalam berdakwah dan dalam seluruh ketaatan dan pendekatan diri kepada-Nya. Janganlah seseorang melakukan ibadah untuk mencari kedudukan, pujian atau pangkat dan derajat. Kapan saja noda-noda niat ini masuk dalam dirinya maka keluarlah ikhlas darinya yang menjadi syarat diterimanya sebuah amal, tetapi sebaliknya, kapan saja kejujuran dalam niat dan tujan telah terealisasikan dan keikhlasan telah diwujudkan, maka hal itu akan membuahkan tekad yang benar dan kehendak (iradah) yang lurus, dan jadilah seseorang yang benar dan jujur, tidak memperlambat dalam melaksanakan tugas mentransfer kebenaran dan kebaikan kepada manusia dengan ikhlas hanya mencari ridho Alloh dan negeri akhirat, dia akan terus belajar dan senantiasa mencari kebenaran dan kejujuran dimanapun ia berada.
- Jujur dalam ucapan. Jujur dalam ucapan ini menuntut seseorang agar tidak mengatakan kebatilan apapun bentuknya, baik itu dusta, mencacat, mencela, nelaknat, ucapan keji, ghibah, namimah (menyebar isu), ataupun ucapan dusta. Dan secara global, seorang muslim adalah manusia yang paling jauh dari bahaya-bahaya lisan, dan memang seperti inilah hakekat kehidupan muslim sejati.
- Sedangkan jujur dalam amal ialah menyesuaikan perkataan dan perbuatan kepada kebenaran yang di serukan. Dan bahasan ini telah dijelaskan dalam mabhats beramal dengan ilmu.
Jujur banyak menyimpan pengaruh yang baik dalam kehidupan social masyarakat, diantaranya ialah:
- Bukan hal yang samar lagi bahwa kejujuran memiliki pengaruh yang dalam bagi perjalanan hidup seorang muslim, perangainya, dialeknya, dorongan perasaannya, semua itu akan berbekas pada orang-orang disekitarnya, dan meninggalkan kesan yang dalam terhadap kebenaran pemikiran dan prilakunya..
- Jujur menyimpan pengaruh yang baik dalam menjinakkan hati, tolong menolong, berkasih sayang dan mengikat hati, sebaliknya kebohongan akan menanamkan kedengkian, menghapus kepercayaan dan menumbuhkan keraguan sebagai akibat dari tindakan berpura-pura dan tidak tetap yang senantiasa telah menjadi karakter para pembohong. Dari sini, maka tuntutan kejujuran ialah meninggalkan seluruh bahaya lisan, seperti meremehkan orang lain baik dengan isyarat maupun ucapan, menyebar isu bohong, dan banyak bertanya yang tidak ada manfaatnya. Ketika hati telah terpaut, bersih dan menyatu dalam mahabbatullah, maka ketika itu nasehat-menasehati mampu berjalan dalam masyarakat sebagaimana aliran air dalam tanaman, yang selanjutnya akan menumbuhkan kehidupan, perkembangan dan kelanggengan. Dan akan tumbuh pula dalam bangunan masyarakat itu pohon iman yang tali temalinya terikat kuat dan bendera kejayaannya akan berkibar tinggi.
- Kejujuran akan menanamkan kepercayaan dalam jiwa, ketentraman, kelapangan dan kasih sayang (kelemah lembutan), sehingga manusia menjadi bergantung kepada para da’i yang jujur dan benar (niatnya), mereka mempercayainya, dan merasa aman disisinya. Ikatan yang kuat ini, yang terjalin antara sesama muslim adalah faktor utama bagi kesuksesan sebuah dakwah, dan yang demikian itu tidak akan terwujud kecuali dengan kejujuran. Berbeda dengan kedustaan yang menanamkan dalam jiwa benih-benih keraguan, kekurangan kepercayaan, dan kewaspadaan. Maka akhlak pendusta bukanlah sesuatu yang disukai oleh manusia dan dianggapbaik oleh mereka.
JANJI ALLOH TERHADAP ORANG-ORANG YANG JUJUR.
- Menjadi pendamping para Nabi alaihimus salaam
- Memasukkannya ke Surga.
(( عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى
البِرِّ، وَإِنَّ البِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ
الرَّجُلُ يُصَدقُ وَيَتَحَّرَى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ
صِدِّيْقًا ))
“Hendaklah kalian (berbuat) jujur!. Sesungguhnya jujur
menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukkannya ke Surga. Dan
senantiasa seorang (berbuat) jujur dan menjaga kejujurannya hingga
ditulis disisi Alloh sebagai Ash-Shiddiq (orang yang jujur).(HR. Muslim: 4721)- Menenangkan hati.
حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: (( دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَالَا يَرِيْبُكَ، فَإِنَّ
الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ، وَ الكَذْبُ رِيْبَةٌ ))
“Aku hafal dari Rosululloh sholallohu alaihi wassalam:
“Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu kepada perkara yang tidak
meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan, dan bohong adalah
kecemasan”. (lihat Shohih Jami’: 3377)- Membuat niat lebih besar.
(( مَنْ سَأَلَ اللهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ، بَلَّغَهُ اللهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ ))
“Barangsiapa meminta kepada Alloh mati syahid dengan jujur, Alloh angkat dia ketingkatan orang-orang yang syahid”. (HR. Muslim: 1773)- Mendapatkan berkah.
(( البَيْعَانِ بِالخِيَارِ مَالَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ
صَدَقَا وَ بَيَّنَا بُوْرِكَ لَهُمَا فِيْ بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَ
كَذَّبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا ))
“Penjual dan pembeli (memiliki) pilihan sebelum mereka berdua
berpisah, jika berdua berkata jujur dan menjelaskan (kekurangannya) maka
diberkahi jual beli mereka. Dan jika berdua menyembunyikan (kekurangan)
dan berbohong maka dihapus keberkahan jual beli mereka berdua”.(HR. Bukhori: 1937)MACAM-MACAM KEJUJURAN
Ibnu Qoyyim rohimahulloh berkata: “Jujur tiga (macam): perkataan, perbuatan dan keadaan”.
- Jujur dalam perkataan: lurusnya lisan pada perkataan seperti lurusnya tangkai diatas pangkalnya.
- jujur dalam perbuatan: lurusnya perbuatan-perbuatan diatas perintah dan Ittiba’ seperti lurusnya kepada diatas badan.
- Jujur dalam keadaan: lurusnya perbuatan hati dan anggota badan diatas keikhlasan.
PENGARUH JUJUR TERHADAP KEKUATAN IMAN DAN KEBANGKITAN UMMAT.
Jujur adalah salah satu tanda keimanan, petunjuk kuat adanya iman dalam hati pelakunya, bukti murni atas kehidupannya. Tidak ada seorang muslim naik ketingkatan jujur kecuali hal itu baik baginya dan mewajibkan pujian dan pahala yang besar.
Alloh ta’ala berfirman:
Artinya:”Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Alloh; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya). Supaya Alloh memberikan balasan kepada orang-orang yang benar (jujur) itu Karena kebenarannya (kejujurannya), dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima Taubat mereka. Sesungguhnya Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33]: 23-24)
Ayat ini turun pada Anas bin Nadhor. Diriwayatkan dalam Bukhori dan Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata: pamanku Anas bin Nadhor tidak hadir perang badar, tatkala beliau datang berkata: “Aku telah absen awal peperangan Rosululloh memerangi orang-orang musyrik, kalau Alloh ta’ala menghadirkanku perang, sungguh Alloh melihat apa yang akan aku perbuat. Tatkala datang perang uhud, orang-orang berlarian dan dia berkata: “Ya Alloh sesungguhnya aku serahkan ini kepadamu dari apa yang didaangkan oleh mereka (Yakni orang-orang musyrik), dan aku meminta udzur kepadamu dari apa yang diperbuat mereka (orang-orang muslim), kemudian beliau berjalan dengan pedangnya dan bertemu dengan Sa’ad bin Mu’adz, lalu berkata: “Ya Sa’ad, demi jiwaku yang ada ditangannya sesungguhnya aku mencium bau surga dibawah Uhud. Bau surga!
Sa’ad berkata: “Aku tidak mampu Ya Rosululloh apa yang dia perbuat”.
Anas berkata: maka kami temukan dia diantara mayat-mayat dengan 80 lebih luka dari pukulan pedang, tusukan tombak, lemparan anak panah. Sungguh mereka telah membalas dengan semisalnya”.
Dia berkata: “dan kami tidak mengetahuinya hingga saudara perempuannya mengetahui ruas-ruas jariya. Anas berkata: “maka kami berkata: “Turun ayat ini:
Padanya dan pada teman-temannya.
Alloh ta’ala berfirman:
“Ta’at dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). apabila Telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). tetapi Jikalau mereka benar ( jujur imannya) terhadap Alloh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka”.(QS.Muhammad [47]: 21)
Maksudnya jika mereka jujur kepada Alloh ta’ala dalam keimanan, maka hati mereka sesuai dalam hal itu kepada lisan mereka.
Alloh ta’ala Paling Jujur dari Orang-Orang Yang Jujur.
Tiada didunia dan di langit orang yang paling jujur dari Alloh ta’ala. Jika Alloh ta’ala berfirman maka firman adalah kebenaran dan kejujuran. Maha suci Alloh terhindar dari perkataan bohong, bathil dan tidak berguna.
Dan begitu juga dalam setiap apa yang telah disyari’atkan adalah kebenaran baik berhubungan dengan agama atau dunia, baik yang berhubugan dengan perkara yang lalu, sekarang, atau mendatang.
Ketahuilah, bahwa istilah jujur, berlaku untuk beberapa makna, di anataranya:
- Jujur dalam perkataan.
- Jujur dalam niat dan kehendak
- Jujur dalam hasrat dan pemenuhan dari hasrat itu
Contoh yang kedua bagi pemaknaan jujur dalam hal ini, seperti jujur dalam hasrat dan berjanji untuk diri sendiri. Sampai disini tidak ada hal yang berat dan sulit. Hanya saja, hal ini perlu di buktikan jika benar-benar terjadi, apakah hasrat itu benar adanya, ataukah justru dia akan lebih di kuasai oleh nafsu. Karena itu Alloh ta’ala berfirman:
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Alloh”. (QS. Al-Ahzab: 23).
- Jujur dalam amal
Mutharrif berkata: “Jika yang tersembunyi di dalam batin seseorang, selaras dengan apa yang terlihat, maka Alloh berfirman: “Inilah hamba-Ku yang sebenarnya”.
- Jujur dalam berbagai masalah
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Alloh dan Rosul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Alloh. mereka Itulah orang-orang yang benar”. (QS. Al-Hujuraat: 15).
Sumber : http://hasmidepok.org/kajian-islam/kejujuran-dalam-islam.html
1. Pengertian Jujur
Apa pengertian jujur ? Dalam bahasa Arab, kata jujur sama maknanya
dengan “ash-shidqu” atau “shiddiq” yang berarti nyata, benar, atau
berkata benar. Lawan kata ini adalah dusta, atau dalam bahasa Arab
”al-kadzibu”. Secara istilah, jujur atau ash-shidqu bermakna:
(1) kesesuaian antara ucapan dan perbuatan;
(2) kesesuaian antara informasi dan kenyataan;
(3) ketegasan dan kemantapan hati; dan
(4) sesuatu yang baik yang tidak dicampuri dengan kedustaan.
Dalam bahasa Indonesia, jujur merupakan kata dasar dari kejujuran,
menurut jenis katanya, jujur merupakan kata sifat sedangkan kejujuran
merupakan kata benda. Menurut KBBI, kata "jujur" berarti lurus hati;
tidak berbohong (misal dengan berkata apa adanya); 2 tidak curang (misal
dalam permainan, dng mengikuti aturan yg berlaku): mereka itulah
orang-orang yg jujur dan disegani; 3 tulus; ikhlas;
Sedangkan "kejujuran" berarti sifat (keadaan) jujur; ketulusan (hati);
kelurusan (hati): ia meragukan kejujuran anak muda itu.
Banyak pendapat yang menyatakan bahwa saat ini kejujuran sudah menjadi
barang langka. Terlepas dari benar atau tidaknya pendapat tersebut, kita
harus tetap optimis bahwa masih banyak kejujuran di sekeliling kita,
dan kita harus tetap menggemakan semangat kejujuran. Contoh kisah nyata
yang menarik diperlihatkan oleh Bapak Abdul Mukti dari Kediri. Ia mampu
menggemakan semangat kejujuran tidak hanya dengan omongan, tapi dengan
tindakan jujur yang nyata. Sejak tahun 2011, Pak Mukti menjual bensin
dengan menaruhnya ke dalam botol-botol yang ditatanya di atas sebuah rak
di depan rumahnya. Di rak tersebut ditulisnya tulisan 'Kejujuran',
'Ambil sendiri', 'Bayar dengan pas dan masukkan ke dalam toples', Kios
bensin "kejujuran" tersebut tidak pernah dijaga, karena Pak Mukti
percaya bahwa "kejujuran" masih banyak berada di sekelilingnya. (dikutip
dari detik.com)
2. Pembagian Sifat Jujur
Imam al-Gazali membagi sifat jujur atau benar (shiddiq) sebagai berikut.
Sumber: http://kisahimuslim.blogspot.co.id/2014/09/arti-dan-makna-kejujuran-dalam-islam.html
Sumber: http://kisahimuslim.blogspot.co.id/2014/09/arti-dan-makna-kejujuran-dalam-islam.html
1. Pengertian Jujur
Apa pengertian jujur ? Dalam bahasa Arab, kata jujur sama maknanya
dengan “ash-shidqu” atau “shiddiq” yang berarti nyata, benar, atau
berkata benar. Lawan kata ini adalah dusta, atau dalam bahasa Arab
”al-kadzibu”. Secara istilah, jujur atau ash-shidqu bermakna:
(1) kesesuaian antara ucapan dan perbuatan;
(2) kesesuaian antara informasi dan kenyataan;
(3) ketegasan dan kemantapan hati; dan
(4) sesuatu yang baik yang tidak dicampuri dengan kedustaan.
Dalam bahasa Indonesia, jujur merupakan kata dasar dari kejujuran,
menurut jenis katanya, jujur merupakan kata sifat sedangkan kejujuran
merupakan kata benda. Menurut KBBI, kata "jujur" berarti lurus hati;
tidak berbohong (misal dengan berkata apa adanya); 2 tidak curang (misal
dalam permainan, dng mengikuti aturan yg berlaku): mereka itulah
orang-orang yg jujur dan disegani; 3 tulus; ikhlas;
Sedangkan "kejujuran" berarti sifat (keadaan) jujur; ketulusan (hati);
kelurusan (hati): ia meragukan kejujuran anak muda itu.
Banyak pendapat yang menyatakan bahwa saat ini kejujuran sudah menjadi
barang langka. Terlepas dari benar atau tidaknya pendapat tersebut, kita
harus tetap optimis bahwa masih banyak kejujuran di sekeliling kita,
dan kita harus tetap menggemakan semangat kejujuran. Contoh kisah nyata
yang menarik diperlihatkan oleh Bapak Abdul Mukti dari Kediri. Ia mampu
menggemakan semangat kejujuran tidak hanya dengan omongan, tapi dengan
tindakan jujur yang nyata. Sejak tahun 2011, Pak Mukti menjual bensin
dengan menaruhnya ke dalam botol-botol yang ditatanya di atas sebuah rak
di depan rumahnya. Di rak tersebut ditulisnya tulisan 'Kejujuran',
'Ambil sendiri', 'Bayar dengan pas dan masukkan ke dalam toples', Kios
bensin "kejujuran" tersebut tidak pernah dijaga, karena Pak Mukti
percaya bahwa "kejujuran" masih banyak berada di sekelilingnya. (dikutip
dari detik.com)
2. Pembagian Sifat Jujur
Imam al-Gazali membagi sifat jujur atau benar (shiddiq) sebagai berikut.
Arti dan Makna Kejujuran dalam Islam
Jujur dalam niat atau berkehendak maksudnya adalah tiada dorongan
bagi seseorang dalam segala tindakan dan gerakannya selain karena
dorongan dari Allah Swt.
Jujur dalam perkataan (lisan), yaitu sesuainya berita yang diterima
dengan berita yang disampaikan. Setiap orang harus bisa memelihara
perkataannya. Ia tidak berkata kecuali kata-kata yang jujur. Barangsiapa
yang menjaga lidahnya dengan selalu menyampaikan berita yang sesuai
dengan fakta yang sebenarnya, ia termasuk jujur jenis ini. Menepati
janji juga termasuk jujur jenis ini.
Jujur dalam perbuatan/amaliah, yaitu beramal dengan sungguh-sungguh
sehingga perbuatan akhirnya tidak menunjukkan sesuatu yang ada dalam
batinnya dan menjadi tabiat bagi dirinya.
Kejujuran merupakan pondasi utama atas tegaknya nilai-nilai kebenaran
karena jujur itu identik dengan kebenaran. Allah Swt. berfirman dala
al-Qur'an yang Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah
kamu kepada Allah Swt. dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (Q.S.
al-Ahzāb/33:70) Orang yang beriman perkataannya harus sesuai dengan
perbuatannya (jujur) karena sangat berdosa besar bagi orang-orang yang
tidak mampu menyesuaikan perkataannya dengan perbuatan, atau berbeda apa
yang di lidah dan apa yang diperbuat. Allah Swt. berfirman, “Wahai
orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak
kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu
mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. ash-¤aff/61:2-3)
Pesan moral dari ayat tersebut tidak lain adalah untuk memerintahkan
satunya perkataan dengan perbuatan, atau dengan kata lain berkata dan
berbuat jujur. Dosa besar di sisi Allah Swt., jika mengucapkan sesuatu
yang tidak disertai dengan perbuatannya. Perilaku jujur dapat
menghantarkan manusia yang melakukannya menuju kesuksesan dunia dan
akhirat. Bahkan, sifat jujur adalah sifat yang wajib dimiliki oleh
setiap nabi dan rasul Allah. Orang-orang yang selalu istiqamah atau
konsisten mempertahankan kejujuran, sesungguhnya ia telah mamiliki
separuh dari sifat kenabian.
Jujur merupakan sikap yang tulus dalam melaksanakan sesuatu yang
diamanatkan, baik itu berupa harta maupun tanggung jawab. Orang yang
melaksanakan amanah disebut al-Amin, yakni orang yang terpercaya, jujur,
dan setia. Dinamai al-Amin karena segala sesuatu yang diamanatkan
kepadanya menjadi aman dan terjamin dari segala bentuk gangguan, baik
gangguan yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Sifat
jujur dan terpercaya merupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam
segala aspek kehidupan, seperti dalam kehidupan rumah tangga,
perusahaan, perniagaan, dan hidup bermasyarakat. Sifat-sifat dan
akhlaknya yang sangat terpuji merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan Nabi Muhammad saw. berhasil dalam membangun masyarakat
Islam. Salah satu sifatnya yang menonjol adalah kejujurannya sejak masa
kecil sampai akhir hayat beliau sehingga ia mendapat gelar al-Amin
(orang yang dapat dipercaya atau jujur).
Kejujuran akan membuat seseorang mendapatkan cinta kasih dan keridhaan
Allah Swt. Sedangkan kebohongan adalah kejahatan yang tiada tara, yang
merupakan faktor terkuat yang dapat mendorong seseorang berbuat
kemunkaran dan menjerumuskannya ke jurang api neraka.
Kejujuran sebagai sumber keberhasilan, kebahagian, serta ketenteraman,
yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Bahkan, seorang muslim wajib
menanamkan nilai kejujuran tersebut kepada anak-anaknya sejak dini
hingga diharapkan mereka dapat menjadi generasi yang meraih sukses dalam
mengarungi kehidupan. Adapun kebohongan adalah sumber dari segala
keburukan dan muara dari segala kecaman karena akibat yang
ditimbulkannya adalah kejelekan, dan hasil akhirnya adalah kekejian.
Akibat yang ditimbulkan oleh kebohongan adalah namimah (mengadu domba),
dan namimah dapat melahirkan kebencian, sedangkan kebencian adalah awal
dari permusuhan. Dalam permusuhan tidak ada keamanan, kenyamanan, dan
kedamaian. Dapat dikatakan bahwa, “orang yang tidak jujur niscaya akan
sedikit temannya dan lebih dekat kepada kesengsaraan.”
Sumber: http://kisahimuslim.blogspot.co.id/2014/09/arti-dan-makna-kejujuran-dalam-islam.html
Sumber: http://kisahimuslim.blogspot.co.id/2014/09/arti-dan-makna-kejujuran-dalam-islam.html
1. Pengertian Jujur
Apa pengertian jujur ? Dalam bahasa Arab, kata jujur sama maknanya
dengan “ash-shidqu” atau “shiddiq” yang berarti nyata, benar, atau
berkata benar. Lawan kata ini adalah dusta, atau dalam bahasa Arab
”al-kadzibu”. Secara istilah, jujur atau ash-shidqu bermakna:
(1) kesesuaian antara ucapan dan perbuatan;
(2) kesesuaian antara informasi dan kenyataan;
(3) ketegasan dan kemantapan hati; dan
(4) sesuatu yang baik yang tidak dicampuri dengan kedustaan.
Dalam bahasa Indonesia, jujur merupakan kata dasar dari kejujuran,
menurut jenis katanya, jujur merupakan kata sifat sedangkan kejujuran
merupakan kata benda. Menurut KBBI, kata "jujur" berarti lurus hati;
tidak berbohong (misal dengan berkata apa adanya); 2 tidak curang (misal
dalam permainan, dng mengikuti aturan yg berlaku): mereka itulah
orang-orang yg jujur dan disegani; 3 tulus; ikhlas;
Sedangkan "kejujuran" berarti sifat (keadaan) jujur; ketulusan (hati);
kelurusan (hati): ia meragukan kejujuran anak muda itu.
Banyak pendapat yang menyatakan bahwa saat ini kejujuran sudah menjadi
barang langka. Terlepas dari benar atau tidaknya pendapat tersebut, kita
harus tetap optimis bahwa masih banyak kejujuran di sekeliling kita,
dan kita harus tetap menggemakan semangat kejujuran. Contoh kisah nyata
yang menarik diperlihatkan oleh Bapak Abdul Mukti dari Kediri. Ia mampu
menggemakan semangat kejujuran tidak hanya dengan omongan, tapi dengan
tindakan jujur yang nyata. Sejak tahun 2011, Pak Mukti menjual bensin
dengan menaruhnya ke dalam botol-botol yang ditatanya di atas sebuah rak
di depan rumahnya. Di rak tersebut ditulisnya tulisan 'Kejujuran',
'Ambil sendiri', 'Bayar dengan pas dan masukkan ke dalam toples', Kios
bensin "kejujuran" tersebut tidak pernah dijaga, karena Pak Mukti
percaya bahwa "kejujuran" masih banyak berada di sekelilingnya. (dikutip
dari detik.com)
2. Pembagian Sifat Jujur
Imam al-Gazali membagi sifat jujur atau benar (shiddiq) sebagai berikut.
Arti dan Makna Kejujuran dalam Islam
Jujur dalam niat atau berkehendak maksudnya adalah tiada dorongan
bagi seseorang dalam segala tindakan dan gerakannya selain karena
dorongan dari Allah Swt.
Jujur dalam perkataan (lisan), yaitu sesuainya berita yang diterima
dengan berita yang disampaikan. Setiap orang harus bisa memelihara
perkataannya. Ia tidak berkata kecuali kata-kata yang jujur. Barangsiapa
yang menjaga lidahnya dengan selalu menyampaikan berita yang sesuai
dengan fakta yang sebenarnya, ia termasuk jujur jenis ini. Menepati
janji juga termasuk jujur jenis ini.
Jujur dalam perbuatan/amaliah, yaitu beramal dengan sungguh-sungguh
sehingga perbuatan akhirnya tidak menunjukkan sesuatu yang ada dalam
batinnya dan menjadi tabiat bagi dirinya.
Kejujuran merupakan pondasi utama atas tegaknya nilai-nilai kebenaran
karena jujur itu identik dengan kebenaran. Allah Swt. berfirman dala
al-Qur'an yang Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah
kamu kepada Allah Swt. dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (Q.S.
al-Ahzāb/33:70) Orang yang beriman perkataannya harus sesuai dengan
perbuatannya (jujur) karena sangat berdosa besar bagi orang-orang yang
tidak mampu menyesuaikan perkataannya dengan perbuatan, atau berbeda apa
yang di lidah dan apa yang diperbuat. Allah Swt. berfirman, “Wahai
orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak
kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu
mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. ash-¤aff/61:2-3)
Pesan moral dari ayat tersebut tidak lain adalah untuk memerintahkan
satunya perkataan dengan perbuatan, atau dengan kata lain berkata dan
berbuat jujur. Dosa besar di sisi Allah Swt., jika mengucapkan sesuatu
yang tidak disertai dengan perbuatannya. Perilaku jujur dapat
menghantarkan manusia yang melakukannya menuju kesuksesan dunia dan
akhirat. Bahkan, sifat jujur adalah sifat yang wajib dimiliki oleh
setiap nabi dan rasul Allah. Orang-orang yang selalu istiqamah atau
konsisten mempertahankan kejujuran, sesungguhnya ia telah mamiliki
separuh dari sifat kenabian.
Jujur merupakan sikap yang tulus dalam melaksanakan sesuatu yang
diamanatkan, baik itu berupa harta maupun tanggung jawab. Orang yang
melaksanakan amanah disebut al-Amin, yakni orang yang terpercaya, jujur,
dan setia. Dinamai al-Amin karena segala sesuatu yang diamanatkan
kepadanya menjadi aman dan terjamin dari segala bentuk gangguan, baik
gangguan yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Sifat
jujur dan terpercaya merupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam
segala aspek kehidupan, seperti dalam kehidupan rumah tangga,
perusahaan, perniagaan, dan hidup bermasyarakat. Sifat-sifat dan
akhlaknya yang sangat terpuji merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan Nabi Muhammad saw. berhasil dalam membangun masyarakat
Islam. Salah satu sifatnya yang menonjol adalah kejujurannya sejak masa
kecil sampai akhir hayat beliau sehingga ia mendapat gelar al-Amin
(orang yang dapat dipercaya atau jujur).
Kejujuran akan membuat seseorang mendapatkan cinta kasih dan keridhaan
Allah Swt. Sedangkan kebohongan adalah kejahatan yang tiada tara, yang
merupakan faktor terkuat yang dapat mendorong seseorang berbuat
kemunkaran dan menjerumuskannya ke jurang api neraka.
Kejujuran sebagai sumber keberhasilan, kebahagian, serta ketenteraman,
yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Bahkan, seorang muslim wajib
menanamkan nilai kejujuran tersebut kepada anak-anaknya sejak dini
hingga diharapkan mereka dapat menjadi generasi yang meraih sukses dalam
mengarungi kehidupan. Adapun kebohongan adalah sumber dari segala
keburukan dan muara dari segala kecaman karena akibat yang
ditimbulkannya adalah kejelekan, dan hasil akhirnya adalah kekejian.
Akibat yang ditimbulkan oleh kebohongan adalah namimah (mengadu domba),
dan namimah dapat melahirkan kebencian, sedangkan kebencian adalah awal
dari permusuhan. Dalam permusuhan tidak ada keamanan, kenyamanan, dan
kedamaian. Dapat dikatakan bahwa, “orang yang tidak jujur niscaya akan
sedikit temannya dan lebih dekat kepada kesengsaraan.”
Sumber: http://kisahimuslim.blogspot.co.id/2014/09/arti-dan-makna-kejujuran-dalam-islam.html
Sumber: http://kisahimuslim.blogspot.co.id/2014/09/arti-dan-makna-kejujuran-dalam-islam.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar