Senin, 27 Februari 2017

Mengakui Nikmat-Nikmat Allah


Hasil gambar untuk gambar allah bergerak
             sumber : http://www.saatnya.com/2015/10/kumpulan-dp-bbm-ayat-ayat-al-quran.html  

 Beruntunglah orang yang mengakui kenikmatan-kenikmatan Allah di hadapan-Nya dan menyandarkan semua hanya pada-Nya. Dia tinggalkan dirinya, sarana-sarana (duniawi), serta daya dan kekuatannya. Orang berakal adalah orang yang orang yang tidak menghitung-hitung amalan pada Allah dan tidak pula meminta balasan dari-Nya dalam segala kondisi.
     Celakalah! Engkau sembah Allah 'Azza wa Jalla tanpa landasan ilmu. Engkau juga berzuhud tanpa ilmu, dan engkau ambil pula dunia tanpa ilmu. Itu adalah hijab dibalik hijab, murka diatas kemurkaan. Engkau tidak bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk, juga yang positif dan negatif bagimu. Engkau tidak pula mengetahui kawan dan lawan. Semua itu karena ketidakmengertianmu akan hukuman Allah 'Azza wa Jalla dan kemungkiranmu dari khidmat melayani para syekh. syekh-syekh amal dan ilmu-lah yang bisa menunjukanmu pada jalan al-Haqq 'Azza wa Jalla. Ucapan dahulu, baru tindakan.
      Dengan ilmu, engkau akan sampai pada al-Haqq 'Azza wa Jalla. Dan, tidak ada orang yang sampai pada al-Haqq 'Azza wa Jalla, kecuali dengan ilmu. Zuhud menjauhi keduniaan dan berpaling darinya dengan segenap hati dan qalib (fisik). Seorang mutazahhid mengeluarkan dunia dari tangannya, sementara pezuhud sejati yang benar-benar berzuhud mengeluarkannya dari dalam hatinya. Mereka berzuhud meninggalkan dunia dengan segenap hati mereka. Sehingga, zuhud kemudian menjadi karakter mereka yang sudah mendarah-daging dalam lahir dan batin mereka. Api tabiat mereka telah padam, hawa kesenangan mereka telah terpecah-pecah, nafsu mereka diam dan tenang, serta keburukannya pun telah hilang.
     Wahai pemuda! Zuhud model ini bukan keterampilan yang dipelajari, dan bukan pula sesuatu yang kauambil, lalu kaubuang. Akan tetapi, ia adalah jenjang langkah demi langkah yang dimulai dengan menatap wajah dunia. Dilihatnya dunia sebagaimana rupa dunia yang dilihat oleh orang-orang terdahulu dari para nabi dan rasul, juga para wali dan abdal yang setiap zaman tidak pernah kosong dari mereka. Pandangan mereka atas dunia sah dengan mengikuti para pendahulu dalam ucapan dan tindakan mereka.
     Maka jika engkau mengikuti mereka, tentunya engkau akan melihat apa yang mereka lihat. Jika engkau mengikuti jejak mereka (para wali dan kau saleh) dalam sinergi ucapan dan tindakan, sepi dan keramaian, ilmu dan amal, rupa dan substansi, puasa seperti puasa mereka, shalat seperti shalat mereka, mengambil seperti pengambilan mereka (atas duniawi), mungkir seperti kemungkiran mereka (dari duniawi), dan mencintai mereka maka Allah 'Azza wa Jalla akan menganugerahimu cahaya. Dengan cahaya itu, engkau bisa melihat dirimu dan selainmu dengan jelas. Segala cela keburukan makhluk juga akan terlihat jelas, hingga kemudian engkau bisa berzuhud memungkiri diri dan segenap manusia.
Sumber : (Buku Bekal-Bekal MENJADI KEKASIH ALLAH oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani)

Kamis, 23 Februari 2017

Jujur


Kejujuran dalam islam atau dikenal dengan istilah As-Shidqu ialah kesesuaian pembicaraan dengan kenyataan menurut keyakinan orang yang berbicara, As-Sidqhu ini kebalikan dari Al-Kadzibu (bohong). Ada yang mengatakan As-Shidqu ialah kesesuaian ucapan hati dengan sesuatu yang dikabarkan (dhahirnya) secara bersamaan, jika salah satu syarat tersebut hilang maka tidak dinamakan jujur secara sempurna. As-Sidqhu ini memiliki keutamaan yang agung, pahala yang besar/banyak, serta kedudukan yang mulia. Jujur dan benar di antara bagian dari Ash-Shidu. Dan bukti dari keutamaan Sidqhu, ketinggian kedudukannya, serta kemuliaan derajatnya ialah:
Sesungguhnya As-Sidqhu menjadi ciri khas ahlul ilmi dan takwa. Alloh ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang sidiqin (benar), laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Alloh, Alloh Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.(QS. Al-Ahzab: 35).
Maka barang siapa yang memiliki seluruh sifat yang agung ini, bahkan telah menjadi pakaian dan perhiasannya maka benar-benar ia telah beruntung. Kita berdoa kepada Alloh ta’ala semoga Dia menjadikan kita termasuk dari mereka.
Alloh ta’ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar terus bersama orang-orang yang jujur (shiddiqin) dan menetapi kejujuran dalam setiap keadaannya. Kejujuran adalah jalan keselamatan dari kehidupan dunia dan adzab akhirat. Alloh ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang sidiqin”. (QS. At-Taubah: 119).
Termasuk bukti keutamaan kejujuran dan orang-orang yang benar adalah jeleknya tempat kembali bagi para pembohong, dan sesungguhnya bohong adalah bagian dari sifat orang munafik Naudzu billahi.
Dalam shahih Bukhari dan Muslim disebutkan, dari Abdullah bin Amrradhiyallahu’anhu bahwasanya Nabi sholallohu alaihi wassalam bersabda: “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, apabila berbicara selalu bohong, jika berjanji menyelisihi, dan jika dipercaya khianat”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat yang lain di sebutkan: “Empat perkara, barang siapa dalam dirinya terdapat hal itu maka dia adalah orang munafik tulen, dan barang siapa yang memiliki salah satu darinya, berarti dalam dirinya terdapat sifat orang munafik hingga ia meninggalkannya… (kemudian di sebutkan diantaranya, yaitu; bohong)”.(HR. Bukhari dan Muslim).

Kejujuran Dalam Islam


Jujur dalam islam adalah jalan Al-Bir (kebaikan) dan jalan surga, demikian juga sebaliknya bohong adalah jalan kedzaliman dan neraka –Naudzubillahi-. Dalam shahih Bukhori dan Muslim di sebutkan, dari Nabi sholallohu alaihi wassalam beliau bersabda:“Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan menunjukkan kepada surga, dan sesungguhnya seorang laki-laki benar-benar telah jujur hingga ia di catat di sisi Allah sebagai orang jujur. Sesungguhnya kebohongan itu menunjukkan kepada kedzaliman. Dan sesungguhnya kedzaliman itu menunjukkan kepada neraka, dan sesungguhnya seorang laki-laki telah berbuat dusta hingga ia I catat disisi Allah sebagai pendusta”.
Medan Kejujuran
Medan perbuatan jujur yang paling utama ada tiga, yaitu:
  1. Jujur dalam niat, yakni kemurnian niat dan benarnya azimah / tekad, dan tetapnyairodah / kehendak.
  2. Benar dalam ucapan yakni hanya mengucapkan kebenaran dan membuang kebatilan, laghwu dan lahwu (sia-sia dan tiada guna) yang diharamkan.
  3. Benar dalam amal yakni dengan menyesuaikan ucapan dengan perbuatan, sedang persesuaiannya adalah dengan petunjuk Kitabullah dan Sunnah Rasulullah sholallohu alaihi wassalam.
Kapan saja seorang hamba mampu merealisasikan kejujuran dalam ketiga medannya (yang tersebut diatas) dengan sempurana dan paripurna maka dia tercatat sebagai bagian orang-orang yang jujur (shiddiqin), dan kehidupan dunia ketika itu baginya tidak lain hanya sebatas apa yang diraih oleh seorang musafir, dan hanya sesuatu yang sudah menjadi milik manusia / berada ditangan mereka.
Berikut ini akan kami bahas ketiga medan jujur tersebut dengan secara rinci :
  • Benar/jujur dalam niat dan kehendak (tujuan). Benar dalam niat dan tujuan menuntut keikhlasan niat hanya karena Allah ‘azzawajall, niat dalam berdakwah dan dalam seluruh ketaatan dan pendekatan diri kepada-Nya. Janganlah seseorang melakukan ibadah untuk mencari kedudukan, pujian atau pangkat dan derajat. Kapan saja noda-noda niat ini masuk dalam dirinya maka keluarlah ikhlas darinya yang menjadi syarat diterimanya sebuah amal, tetapi sebaliknya, kapan saja kejujuran dalam niat dan tujan telah terealisasikan dan keikhlasan telah diwujudkan, maka hal itu akan membuahkan tekad yang benar dan kehendak (iradah) yang lurus, dan jadilah seseorang yang benar dan jujur, tidak memperlambat dalam melaksanakan tugas mentransfer kebenaran dan kebaikan kepada manusia dengan ikhlas hanya mencari ridho Alloh dan negeri akhirat, dia akan terus belajar dan senantiasa mencari kebenaran dan kejujuran dimanapun ia berada.
  • Jujur dalam ucapan. Jujur dalam ucapan ini menuntut seseorang agar tidak mengatakan kebatilan apapun bentuknya, baik itu dusta, mencacat, mencela, nelaknat, ucapan keji, ghibah, namimah (menyebar isu), ataupun ucapan dusta. Dan secara global, seorang muslim adalah manusia yang paling jauh dari bahaya-bahaya lisan, dan memang seperti inilah hakekat kehidupan muslim sejati.
  • Sedangkan jujur dalam amal ialah menyesuaikan perkataan dan perbuatan kepada kebenaran yang di serukan. Dan bahasan ini telah dijelaskan dalam mabhats beramal dengan ilmu.
PENGARUH KEJUJURAN DI MASYARAKAT.
Jujur banyak menyimpan pengaruh yang baik dalam kehidupan social masyarakat, diantaranya ialah:
  • Bukan hal yang samar lagi bahwa kejujuran memiliki pengaruh yang dalam bagi perjalanan hidup seorang muslim, perangainya, dialeknya, dorongan perasaannya, semua itu akan berbekas pada orang-orang disekitarnya, dan meninggalkan kesan yang dalam terhadap kebenaran pemikiran dan prilakunya..
Nabi sholallohu alaihi wassalam selalu berbicara dengan orang-orang yang ditemuinya, beliau bersabda: “Demi Allah hal ini bukanlah suatu kebohongan dan bukan pula pembicaraan yang dusta”. Maka seorang muslim yang emncintai Rosululloh dituntut agar jujur dalam pembicaraan, perbuatan dan niat.
  • Jujur menyimpan pengaruh yang baik dalam menjinakkan hati, tolong menolong, berkasih sayang dan mengikat hati, sebaliknya kebohongan akan menanamkan kedengkian, menghapus kepercayaan dan menumbuhkan keraguan sebagai akibat dari tindakan berpura-pura dan tidak tetap yang senantiasa telah menjadi karakter para pembohong. Dari sini, maka tuntutan kejujuran ialah meninggalkan seluruh bahaya lisan, seperti meremehkan orang lain baik dengan isyarat maupun ucapan, menyebar isu bohong, dan banyak bertanya yang tidak ada manfaatnya. Ketika hati telah terpaut, bersih dan menyatu dalam mahabbatullah, maka ketika itu nasehat-menasehati mampu berjalan dalam masyarakat sebagaimana aliran air dalam tanaman, yang selanjutnya akan menumbuhkan kehidupan, perkembangan dan kelanggengan. Dan akan tumbuh pula dalam bangunan masyarakat itu pohon iman yang tali temalinya terikat kuat dan bendera kejayaannya akan berkibar tinggi.
  • Kejujuran akan menanamkan kepercayaan dalam jiwa, ketentraman, kelapangan dan kasih sayang (kelemah lembutan), sehingga manusia menjadi bergantung kepada para da’i yang jujur dan benar (niatnya), mereka mempercayainya, dan merasa aman disisinya. Ikatan yang kuat ini, yang terjalin antara sesama muslim adalah faktor utama bagi kesuksesan sebuah dakwah, dan yang demikian itu tidak akan terwujud kecuali dengan kejujuran. Berbeda dengan kedustaan yang menanamkan dalam jiwa benih-benih keraguan, kekurangan kepercayaan, dan kewaspadaan. Maka akhlak pendusta bukanlah sesuatu yang disukai oleh manusia dan dianggapbaik oleh mereka.
Selagi manusia telah percaya pada seorang seseorang karena kejujurannya maka mereka akan membuka hati untuknya, dan mereka mau mendengarkan pembicaraannya, dan menerima wejangan, nasehat, petunjuk dan penjelasan yang diberikan olehnya, mereka juga akan berbondong-bondong menemuinya untuk bertanya (tentang masalah yang dihadapinya) dan meminta fatwa kepadanya. Tercapainya hubungan antara da’i dan mereka (mad’u) adalah nikmat yang tidak bisa diukur dengan harga apapun, dan tidak bisa diraih kecuali dengan keutamaan Allah, kemudian dengan kejujuran, bersihnya dada, dan keburukan amal (perbuatan) dan akhlak.
JANJI ALLOH TERHADAP ORANG-ORANG YANG JUJUR.
  • Menjadi pendamping para Nabi alaihimus salaam
Firman Alloh;Artinya:”Dan barangsiapa yang mentaati Alloh dan Rosul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Alloh, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh, mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS. An-Nisaa’ [4]: 69)
  • Memasukkannya ke Surga.
Rosululloh sholallohu alaihi wassalam bersabda:
(( عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى البِرِّ، وَإِنَّ البِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يُصَدقُ وَيَتَحَّرَى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ))
“Hendaklah kalian (berbuat) jujur!. Sesungguhnya jujur menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukkannya ke Surga. Dan senantiasa seorang (berbuat) jujur dan menjaga kejujurannya hingga ditulis disisi Alloh sebagai Ash-Shiddiq (orang yang jujur).(HR. Muslim: 4721)
  • Menenangkan hati.
Hasan Bin Ali rodhiallohu anhuma berkata:
حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَالَا يَرِيْبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ، وَ الكَذْبُ رِيْبَةٌ ))
“Aku hafal dari Rosululloh sholallohu alaihi wassalam: “Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu kepada perkara yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan, dan bohong adalah kecemasan”. (lihat Shohih Jami’: 3377)
  • Membuat niat lebih besar.
Rosululloh sholallohu alaihi wassalam bersabda:
(( مَنْ سَأَلَ اللهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ، بَلَّغَهُ اللهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ ))
“Barangsiapa meminta kepada Alloh mati syahid dengan jujur, Alloh angkat dia ketingkatan orang-orang yang syahid”. (HR. Muslim: 1773)
  • Mendapatkan berkah.
(( البَيْعَانِ بِالخِيَارِ مَالَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَ بَيَّنَا بُوْرِكَ لَهُمَا فِيْ بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَ كَذَّبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا ))
“Penjual dan pembeli (memiliki) pilihan sebelum mereka berdua berpisah, jika berdua berkata jujur dan menjelaskan (kekurangannya) maka diberkahi jual beli mereka. Dan jika berdua menyembunyikan (kekurangan) dan berbohong maka dihapus keberkahan jual beli mereka berdua”.(HR. Bukhori: 1937)

MACAM-MACAM KEJUJURAN
Ibnu Qoyyim rohimahulloh berkata: “Jujur tiga (macam): perkataan, perbuatan dan keadaan”.
  1. Jujur dalam perkataan: lurusnya lisan pada perkataan seperti lurusnya tangkai diatas pangkalnya.
  2. jujur dalam perbuatan: lurusnya perbuatan-perbuatan diatas perintah dan Ittiba’ seperti lurusnya kepada diatas badan.
  3. Jujur dalam keadaan: lurusnya perbuatan hati dan anggota badan diatas keikhlasan.

PENGARUH JUJUR TERHADAP KEKUATAN IMAN DAN KEBANGKITAN UMMAT.
Jujur adalah salah satu tanda keimanan, petunjuk kuat adanya iman dalam hati pelakunya, bukti murni atas kehidupannya. Tidak ada seorang muslim naik ketingkatan jujur kecuali hal itu baik baginya dan mewajibkan pujian dan pahala yang besar.
Alloh ta’ala berfirman:
Artinya:”Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Alloh; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya). Supaya Alloh memberikan balasan kepada orang-orang yang benar (jujur) itu Karena kebenarannya (kejujurannya), dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima Taubat mereka. Sesungguhnya Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33]: 23-24)
Ayat ini turun pada Anas bin Nadhor. Diriwayatkan dalam Bukhori dan Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata: pamanku Anas bin Nadhor tidak hadir perang badar, tatkala beliau datang berkata: “Aku telah absen awal peperangan Rosululloh memerangi orang-orang musyrik, kalau Alloh ta’ala menghadirkanku perang, sungguh Alloh melihat apa yang akan aku perbuat. Tatkala datang perang uhud, orang-orang berlarian dan dia berkata: “Ya Alloh sesungguhnya aku serahkan ini kepadamu dari apa yang didaangkan oleh mereka (Yakni orang-orang musyrik), dan aku meminta udzur kepadamu dari apa yang diperbuat mereka (orang-orang muslim), kemudian beliau berjalan dengan pedangnya dan bertemu dengan Sa’ad bin Mu’adz, lalu berkata: “Ya Sa’ad, demi jiwaku yang ada ditangannya sesungguhnya aku mencium bau surga dibawah Uhud. Bau surga!
Sa’ad berkata: “Aku tidak mampu Ya Rosululloh apa yang dia perbuat”.
Anas berkata: maka kami temukan dia diantara mayat-mayat dengan 80 lebih luka dari pukulan pedang, tusukan tombak, lemparan anak panah. Sungguh mereka telah membalas dengan semisalnya”.
Dia berkata: “dan kami tidak mengetahuinya hingga saudara perempuannya mengetahui ruas-ruas jariya. Anas berkata: “maka kami berkata: “Turun ayat ini:
Padanya dan pada teman-temannya.
Alloh ta’ala berfirman:
“Ta’at dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). apabila Telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). tetapi Jikalau mereka benar ( jujur imannya) terhadap Alloh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka”.(QS.Muhammad [47]: 21)
Maksudnya jika mereka jujur kepada Alloh ta’ala dalam keimanan, maka hati mereka sesuai dalam hal itu kepada lisan mereka.
Alloh ta’ala Paling Jujur dari Orang-Orang Yang Jujur.
Tiada didunia dan di langit orang yang paling jujur dari Alloh ta’ala. Jika Alloh ta’ala berfirman maka firman adalah kebenaran dan kejujuran. Maha suci Alloh terhindar dari perkataan bohong, bathil dan tidak berguna.
Dan begitu juga dalam setiap apa yang telah disyari’atkan adalah kebenaran baik berhubungan dengan agama atau dunia, baik yang berhubugan dengan perkara yang lalu, sekarang, atau mendatang.
Ketahuilah, bahwa istilah jujur, berlaku untuk beberapa makna, di anataranya:
  • Jujur dalam perkataan.
Setiap orang haruslah menjaga setiap pembicaranya, tidak berbicara kecuali yang benar dan berbicara secara jujur. Makna jujur dalam pembicaraan merupakan jenis jujur yang paling jelas dan paling terkenal. Seseorang juga harus menghindari pembicaraan yang dibuat-buat, karena hal ini termasuk kedalam jenis dusta, kecuali ada keperluan yang mendorongnya berbuat seperti itu dalam keadaan-keadaan tertentu, yang dengannya dapat mendatangkan kemaslahatan.
  • Jujur dalam niat dan kehendak
Jujur dalam niat dan kehendak ini, maknanya di kembalikan kepada sikap ikhlas. Jika amalnya ternodai oleh nafsu, maka gugurlah kejujuran niatnya, dan pelakunya dapat di kelompokkan sebagai orang yang berdusta, seperti yang di sebutkan dalam suatu hadits tentang tiga orang, yaitu: orang yang berilmu, seorang qori’ (pembaca Al-Qur’an), dan seorang mujahid yang ikut berperang. Pembaca Al-Qur’an berkata: “Aku sudah membaca Al-Qur’an hingga khatam.” Dustanya itu terletak pada kehendak dan niatnya, bukan pada bacaanya. Begitu pula yang terjadi pada dua orang yang lainnya (seorang qori’ dan seorang mujahid).
  • Jujur dalam hasrat dan pemenuhan dari hasrat itu
Contoh pertama bagi pemaknaan jujur dalam hal ini, adalah seperti orang yang berkata: “Jika Alloh mengkaruniakan harta benda kepadaku, maka aku akan menshodaqohkan semuanya”. Boleh jadi, hasrat ini jujur, namun bisa jadi ada keragu-raguan di dalamnya.
Contoh yang kedua bagi pemaknaan jujur dalam hal ini, seperti jujur dalam hasrat dan berjanji untuk diri sendiri. Sampai disini tidak ada hal yang berat dan sulit. Hanya saja, hal ini perlu di buktikan jika benar-benar terjadi, apakah hasrat itu benar adanya, ataukah justru dia akan lebih di kuasai oleh nafsu. Karena itu Alloh ta’ala berfirman:
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Alloh”. (QS. Al-Ahzab: 23).
  • Jujur dalam amal
Jujur dalam amal disini, berarti harus ada keselarasan antara yang abstrak dan juga yang konkrit, supaya amal-amalnya yang zhahir tidak terlalu memperlihatkan ke khusyuan atau sejenisnya, dengan mengalahkan apa-apa yang ada di batinnya. Tetapi bagi batin harus sebaliknya.
Mutharrif berkata: “Jika yang tersembunyi di dalam batin seseorang, selaras dengan apa yang terlihat, maka Alloh berfirman: “Inilah hamba-Ku yang sebenarnya”.
  • Jujur dalam berbagai masalah
Ini merupakan derajat jujur yang paling tinggi, seperti jujur dalam rasa takut, berharap, zuhud, ridho, cinta, tawakkal dan lain-lainnya. Semua masalah ini memiliki prinsip-prinsip yang menjadi dasar di gunakannya berbagai istilah tersebut, yang juga mempunyai tujuan dan hakikat. Orang yang jujur dan mencari hakikat, tentu akan mendapatkan hakikat itu. Alloh ta’ala berirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Alloh dan Rosul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Alloh. mereka Itulah orang-orang yang benar”. (QS. Al-Hujuraat: 15).

Sumber : http://hasmidepok.org/kajian-islam/kejujuran-dalam-islam.html



1. Pengertian Jujur Apa pengertian jujur ? Dalam bahasa Arab, kata jujur sama maknanya dengan “ash-shidqu” atau “shiddiq” yang berarti nyata, benar, atau berkata benar. Lawan kata ini adalah dusta, atau dalam bahasa Arab ”al-kadzibu”. Secara istilah, jujur atau ash-shidqu bermakna: (1) kesesuaian antara ucapan dan perbuatan; (2) kesesuaian antara informasi dan kenyataan; (3) ketegasan dan kemantapan hati; dan (4) sesuatu yang baik yang tidak dicampuri dengan kedustaan. Dalam bahasa Indonesia, jujur merupakan kata dasar dari kejujuran, menurut jenis katanya, jujur merupakan kata sifat sedangkan kejujuran merupakan kata benda. Menurut KBBI, kata "jujur" berarti lurus hati; tidak berbohong (misal dengan berkata apa adanya); 2 tidak curang (misal dalam permainan, dng mengikuti aturan yg berlaku): mereka itulah orang-orang yg jujur dan disegani; 3 tulus; ikhlas; Sedangkan "kejujuran" berarti sifat (keadaan) jujur; ketulusan (hati); kelurusan (hati): ia meragukan kejujuran anak muda itu. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa saat ini kejujuran sudah menjadi barang langka. Terlepas dari benar atau tidaknya pendapat tersebut, kita harus tetap optimis bahwa masih banyak kejujuran di sekeliling kita, dan kita harus tetap menggemakan semangat kejujuran. Contoh kisah nyata yang menarik diperlihatkan oleh Bapak Abdul Mukti dari Kediri. Ia mampu menggemakan semangat kejujuran tidak hanya dengan omongan, tapi dengan tindakan jujur yang nyata. Sejak tahun 2011, Pak Mukti menjual bensin dengan menaruhnya ke dalam botol-botol yang ditatanya di atas sebuah rak di depan rumahnya. Di rak tersebut ditulisnya tulisan 'Kejujuran', 'Ambil sendiri', 'Bayar dengan pas dan masukkan ke dalam toples', Kios bensin "kejujuran" tersebut tidak pernah dijaga, karena Pak Mukti percaya bahwa "kejujuran" masih banyak berada di sekelilingnya. (dikutip dari detik.com) 2. Pembagian Sifat Jujur Imam al-Gazali membagi sifat jujur atau benar (shiddiq) sebagai berikut.

Sumber: http://kisahimuslim.blogspot.co.id/2014/09/arti-dan-makna-kejujuran-dalam-islam.html

1. Pengertian Jujur Apa pengertian jujur ? Dalam bahasa Arab, kata jujur sama maknanya dengan “ash-shidqu” atau “shiddiq” yang berarti nyata, benar, atau berkata benar. Lawan kata ini adalah dusta, atau dalam bahasa Arab ”al-kadzibu”. Secara istilah, jujur atau ash-shidqu bermakna: (1) kesesuaian antara ucapan dan perbuatan; (2) kesesuaian antara informasi dan kenyataan; (3) ketegasan dan kemantapan hati; dan (4) sesuatu yang baik yang tidak dicampuri dengan kedustaan. Dalam bahasa Indonesia, jujur merupakan kata dasar dari kejujuran, menurut jenis katanya, jujur merupakan kata sifat sedangkan kejujuran merupakan kata benda. Menurut KBBI, kata "jujur" berarti lurus hati; tidak berbohong (misal dengan berkata apa adanya); 2 tidak curang (misal dalam permainan, dng mengikuti aturan yg berlaku): mereka itulah orang-orang yg jujur dan disegani; 3 tulus; ikhlas; Sedangkan "kejujuran" berarti sifat (keadaan) jujur; ketulusan (hati); kelurusan (hati): ia meragukan kejujuran anak muda itu. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa saat ini kejujuran sudah menjadi barang langka. Terlepas dari benar atau tidaknya pendapat tersebut, kita harus tetap optimis bahwa masih banyak kejujuran di sekeliling kita, dan kita harus tetap menggemakan semangat kejujuran. Contoh kisah nyata yang menarik diperlihatkan oleh Bapak Abdul Mukti dari Kediri. Ia mampu menggemakan semangat kejujuran tidak hanya dengan omongan, tapi dengan tindakan jujur yang nyata. Sejak tahun 2011, Pak Mukti menjual bensin dengan menaruhnya ke dalam botol-botol yang ditatanya di atas sebuah rak di depan rumahnya. Di rak tersebut ditulisnya tulisan 'Kejujuran', 'Ambil sendiri', 'Bayar dengan pas dan masukkan ke dalam toples', Kios bensin "kejujuran" tersebut tidak pernah dijaga, karena Pak Mukti percaya bahwa "kejujuran" masih banyak berada di sekelilingnya. (dikutip dari detik.com) 2. Pembagian Sifat Jujur Imam al-Gazali membagi sifat jujur atau benar (shiddiq) sebagai berikut. Arti dan Makna Kejujuran dalam Islam Jujur dalam niat atau berkehendak maksudnya adalah tiada dorongan bagi seseorang dalam segala tindakan dan gerakannya selain karena dorongan dari Allah Swt. Jujur dalam perkataan (lisan), yaitu sesuainya berita yang diterima dengan berita yang disampaikan. Setiap orang harus bisa memelihara perkataannya. Ia tidak berkata kecuali kata-kata yang jujur. Barangsiapa yang menjaga lidahnya dengan selalu menyampaikan berita yang sesuai dengan fakta yang sebenarnya, ia termasuk jujur jenis ini. Menepati janji juga termasuk jujur jenis ini. Jujur dalam perbuatan/amaliah, yaitu beramal dengan sungguh-sungguh sehingga perbuatan akhirnya tidak menunjukkan sesuatu yang ada dalam batinnya dan menjadi tabiat bagi dirinya. Kejujuran merupakan pondasi utama atas tegaknya nilai-nilai kebenaran karena jujur itu identik dengan kebenaran. Allah Swt. berfirman dala al-Qur'an yang Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah Swt. dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (Q.S. al-Ahzāb/33:70) Orang yang beriman perkataannya harus sesuai dengan perbuatannya (jujur) karena sangat berdosa besar bagi orang-orang yang tidak mampu menyesuaikan perkataannya dengan perbuatan, atau berbeda apa yang di lidah dan apa yang diperbuat. Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. ash-¤aff/61:2-3) Pesan moral dari ayat tersebut tidak lain adalah untuk memerintahkan satunya perkataan dengan perbuatan, atau dengan kata lain berkata dan berbuat jujur. Dosa besar di sisi Allah Swt., jika mengucapkan sesuatu yang tidak disertai dengan perbuatannya. Perilaku jujur dapat menghantarkan manusia yang melakukannya menuju kesuksesan dunia dan akhirat. Bahkan, sifat jujur adalah sifat yang wajib dimiliki oleh setiap nabi dan rasul Allah. Orang-orang yang selalu istiqamah atau konsisten mempertahankan kejujuran, sesungguhnya ia telah mamiliki separuh dari sifat kenabian. Jujur merupakan sikap yang tulus dalam melaksanakan sesuatu yang diamanatkan, baik itu berupa harta maupun tanggung jawab. Orang yang melaksanakan amanah disebut al-Amin, yakni orang yang terpercaya, jujur, dan setia. Dinamai al-Amin karena segala sesuatu yang diamanatkan kepadanya menjadi aman dan terjamin dari segala bentuk gangguan, baik gangguan yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Sifat jujur dan terpercaya merupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam segala aspek kehidupan, seperti dalam kehidupan rumah tangga, perusahaan, perniagaan, dan hidup bermasyarakat. Sifat-sifat dan akhlaknya yang sangat terpuji merupakan salah satu faktor yang menyebabkan Nabi Muhammad saw. berhasil dalam membangun masyarakat Islam. Salah satu sifatnya yang menonjol adalah kejujurannya sejak masa kecil sampai akhir hayat beliau sehingga ia mendapat gelar al-Amin (orang yang dapat dipercaya atau jujur). Kejujuran akan membuat seseorang mendapatkan cinta kasih dan keridhaan Allah Swt. Sedangkan kebohongan adalah kejahatan yang tiada tara, yang merupakan faktor terkuat yang dapat mendorong seseorang berbuat kemunkaran dan menjerumuskannya ke jurang api neraka. Kejujuran sebagai sumber keberhasilan, kebahagian, serta ketenteraman, yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Bahkan, seorang muslim wajib menanamkan nilai kejujuran tersebut kepada anak-anaknya sejak dini hingga diharapkan mereka dapat menjadi generasi yang meraih sukses dalam mengarungi kehidupan. Adapun kebohongan adalah sumber dari segala keburukan dan muara dari segala kecaman karena akibat yang ditimbulkannya adalah kejelekan, dan hasil akhirnya adalah kekejian. Akibat yang ditimbulkan oleh kebohongan adalah namimah (mengadu domba), dan namimah dapat melahirkan kebencian, sedangkan kebencian adalah awal dari permusuhan. Dalam permusuhan tidak ada keamanan, kenyamanan, dan kedamaian. Dapat dikatakan bahwa, “orang yang tidak jujur niscaya akan sedikit temannya dan lebih dekat kepada kesengsaraan.”

Sumber: http://kisahimuslim.blogspot.co.id/2014/09/arti-dan-makna-kejujuran-dalam-islam.html
1. Pengertian Jujur Apa pengertian jujur ? Dalam bahasa Arab, kata jujur sama maknanya dengan “ash-shidqu” atau “shiddiq” yang berarti nyata, benar, atau berkata benar. Lawan kata ini adalah dusta, atau dalam bahasa Arab ”al-kadzibu”. Secara istilah, jujur atau ash-shidqu bermakna: (1) kesesuaian antara ucapan dan perbuatan; (2) kesesuaian antara informasi dan kenyataan; (3) ketegasan dan kemantapan hati; dan (4) sesuatu yang baik yang tidak dicampuri dengan kedustaan. Dalam bahasa Indonesia, jujur merupakan kata dasar dari kejujuran, menurut jenis katanya, jujur merupakan kata sifat sedangkan kejujuran merupakan kata benda. Menurut KBBI, kata "jujur" berarti lurus hati; tidak berbohong (misal dengan berkata apa adanya); 2 tidak curang (misal dalam permainan, dng mengikuti aturan yg berlaku): mereka itulah orang-orang yg jujur dan disegani; 3 tulus; ikhlas; Sedangkan "kejujuran" berarti sifat (keadaan) jujur; ketulusan (hati); kelurusan (hati): ia meragukan kejujuran anak muda itu. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa saat ini kejujuran sudah menjadi barang langka. Terlepas dari benar atau tidaknya pendapat tersebut, kita harus tetap optimis bahwa masih banyak kejujuran di sekeliling kita, dan kita harus tetap menggemakan semangat kejujuran. Contoh kisah nyata yang menarik diperlihatkan oleh Bapak Abdul Mukti dari Kediri. Ia mampu menggemakan semangat kejujuran tidak hanya dengan omongan, tapi dengan tindakan jujur yang nyata. Sejak tahun 2011, Pak Mukti menjual bensin dengan menaruhnya ke dalam botol-botol yang ditatanya di atas sebuah rak di depan rumahnya. Di rak tersebut ditulisnya tulisan 'Kejujuran', 'Ambil sendiri', 'Bayar dengan pas dan masukkan ke dalam toples', Kios bensin "kejujuran" tersebut tidak pernah dijaga, karena Pak Mukti percaya bahwa "kejujuran" masih banyak berada di sekelilingnya. (dikutip dari detik.com) 2. Pembagian Sifat Jujur Imam al-Gazali membagi sifat jujur atau benar (shiddiq) sebagai berikut. Arti dan Makna Kejujuran dalam Islam Jujur dalam niat atau berkehendak maksudnya adalah tiada dorongan bagi seseorang dalam segala tindakan dan gerakannya selain karena dorongan dari Allah Swt. Jujur dalam perkataan (lisan), yaitu sesuainya berita yang diterima dengan berita yang disampaikan. Setiap orang harus bisa memelihara perkataannya. Ia tidak berkata kecuali kata-kata yang jujur. Barangsiapa yang menjaga lidahnya dengan selalu menyampaikan berita yang sesuai dengan fakta yang sebenarnya, ia termasuk jujur jenis ini. Menepati janji juga termasuk jujur jenis ini. Jujur dalam perbuatan/amaliah, yaitu beramal dengan sungguh-sungguh sehingga perbuatan akhirnya tidak menunjukkan sesuatu yang ada dalam batinnya dan menjadi tabiat bagi dirinya. Kejujuran merupakan pondasi utama atas tegaknya nilai-nilai kebenaran karena jujur itu identik dengan kebenaran. Allah Swt. berfirman dala al-Qur'an yang Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah Swt. dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (Q.S. al-Ahzāb/33:70) Orang yang beriman perkataannya harus sesuai dengan perbuatannya (jujur) karena sangat berdosa besar bagi orang-orang yang tidak mampu menyesuaikan perkataannya dengan perbuatan, atau berbeda apa yang di lidah dan apa yang diperbuat. Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. ash-¤aff/61:2-3) Pesan moral dari ayat tersebut tidak lain adalah untuk memerintahkan satunya perkataan dengan perbuatan, atau dengan kata lain berkata dan berbuat jujur. Dosa besar di sisi Allah Swt., jika mengucapkan sesuatu yang tidak disertai dengan perbuatannya. Perilaku jujur dapat menghantarkan manusia yang melakukannya menuju kesuksesan dunia dan akhirat. Bahkan, sifat jujur adalah sifat yang wajib dimiliki oleh setiap nabi dan rasul Allah. Orang-orang yang selalu istiqamah atau konsisten mempertahankan kejujuran, sesungguhnya ia telah mamiliki separuh dari sifat kenabian. Jujur merupakan sikap yang tulus dalam melaksanakan sesuatu yang diamanatkan, baik itu berupa harta maupun tanggung jawab. Orang yang melaksanakan amanah disebut al-Amin, yakni orang yang terpercaya, jujur, dan setia. Dinamai al-Amin karena segala sesuatu yang diamanatkan kepadanya menjadi aman dan terjamin dari segala bentuk gangguan, baik gangguan yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Sifat jujur dan terpercaya merupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam segala aspek kehidupan, seperti dalam kehidupan rumah tangga, perusahaan, perniagaan, dan hidup bermasyarakat. Sifat-sifat dan akhlaknya yang sangat terpuji merupakan salah satu faktor yang menyebabkan Nabi Muhammad saw. berhasil dalam membangun masyarakat Islam. Salah satu sifatnya yang menonjol adalah kejujurannya sejak masa kecil sampai akhir hayat beliau sehingga ia mendapat gelar al-Amin (orang yang dapat dipercaya atau jujur). Kejujuran akan membuat seseorang mendapatkan cinta kasih dan keridhaan Allah Swt. Sedangkan kebohongan adalah kejahatan yang tiada tara, yang merupakan faktor terkuat yang dapat mendorong seseorang berbuat kemunkaran dan menjerumuskannya ke jurang api neraka. Kejujuran sebagai sumber keberhasilan, kebahagian, serta ketenteraman, yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Bahkan, seorang muslim wajib menanamkan nilai kejujuran tersebut kepada anak-anaknya sejak dini hingga diharapkan mereka dapat menjadi generasi yang meraih sukses dalam mengarungi kehidupan. Adapun kebohongan adalah sumber dari segala keburukan dan muara dari segala kecaman karena akibat yang ditimbulkannya adalah kejelekan, dan hasil akhirnya adalah kekejian. Akibat yang ditimbulkan oleh kebohongan adalah namimah (mengadu domba), dan namimah dapat melahirkan kebencian, sedangkan kebencian adalah awal dari permusuhan. Dalam permusuhan tidak ada keamanan, kenyamanan, dan kedamaian. Dapat dikatakan bahwa, “orang yang tidak jujur niscaya akan sedikit temannya dan lebih dekat kepada kesengsaraan.”

Sumber: http://kisahimuslim.blogspot.co.id/2014/09/arti-dan-makna-kejujuran-dalam-islam.html

Senin, 20 Februari 2017

Syarat dan Ketentuan Hijab yang Sesuai Syariat Islam

file:///C:/Users/TEMP/Downloads/imgres.htm

Oleh: Abu Ahmad Afifi
Jilbab yang wajib dikenakan oleh wanita muslimah, haruslah memenuhi syarat-syarat berikut:
  1. Meliputi seluruh tubuh ( tanpa kecuali wajah dan telapak tangan ) menurut pendapat ulama yang paling kuat [1]. Dan orang-orang yang membolehkan membuka wajah serta kedua telapak tangan tersebut mempersyaratkan dua syarat, yaitu : Bahwa wajah dan kedua telapak tangan tersebut terlepas dari segala bentuk perhiasan serta aman dari fitnah. Nah, bila kita perhatikan di zaman ini maka syarat yang disebutkan tadi sangat jarang terpenuhi, hampir tidak ditemukan wanita yang membuka wajah tidak menghiasi wajahnya dan tak bisa kita menjamin aman dari fitnah.
  2. Bukan berupa perhiasan berbentuk pakaian ( seperti busana dengan motif tertentu, batik, bunga-bunga dan lain-lain ).
  3. Longgar dan tidak sempit alias ketat[2].
  4. Kainnya tebal dan tidak tipis ( tembus pandang ).
  5. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.
  6. Tidak menyerupai pakaian khas wanita kafir.
  7. Tidak merupakan pakaian syuhrah, yaitu pakaian yang menarik perhatian, dianggap aneh, atau membikin tertawa, Sedangkan yang menutup aurat tidak dianggap aneh dan membikin tertawa, kecuali bagi orang-orang yang lemah iman dan kerdil akalnya.
Realita Hijab di Indonesia
Bila kita mengulangi dan menilik kembali makna, hikmah dan syarat-syarat jilbab yang telah kita sebutkan di tulisan sebelumnya, maka kita akan mendapati kenyataan yang berbeda di lapangan, khususnya jilbab (hijab) wanita di Indonesia. Secara umum kita melihat wanita muslimah di Negara kita ini belum memakai jilbab sebagaimana yang disyariatkan.
Sebuah pemandangan yang sangat menyedihkan, selama ini kami saksikan di tanah suci (Makkah dan Madinah) berkaitan dengan jamaah haji Indonesia khususnya jamaah haji wanita sungguh memperihatinkan. Bagaimana tidak, Indonesia yang terkenal sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, ternyata masih sangat jauh dari adab-adab berpakaian seperti yang diperintahkan oleh Islam. Cara berpakaian mayoritas jamaah haji wanita sungguh tidak mencerminkan nilai-nilai Islam. Kami berfikir, jikalau di tanah suci dan kondisi yang sangat mendukung untuk menerapkan syariat hijab ini tidak mampu (ingin) melakukannya, maka bagaimana pula bila berada di tampat seperti negara kita? Wallahul musta’an…!

sumber :http://wahdahmakassar.org/syarat-dan-ketentuan-hijab-yang-sesuai-syariat-islam/

 

 

Senin, 13 Februari 2017

              Mencintai Nabi Muhammad saw

Cabang iman 14-16 disebutkan dalam bait syair:

وَاحْبُبْ نَبِيَّكَ ثُمَّ عَظِّمْ قَدْرَهُ * وَابْخِلْ بِدِيْنِكَ مَا يُرَى بِكَ مَأْثَمُ
Cintailah nabimu, kemudian agungkan derajatnya; dan kikirlah dengan agamamu selama dilihat perbuatan dosa bagimu.

Nabi Muhammad saw bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى اَكُوْنَ اَحَبَّ اِلَيْهِ مِنْ نَفْسِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ
Tiadalah salah seorang dari kalian beriman, sehingga aku lebih dicintai olehnya dari pada dirinya, hartanya, anaknya, orang tuanya dan manusia semuanya.
Manusia dalam hadits ini adalah selain orang-orang yang telah disebutkan, seperti kerabat, kenalan, tetangga, teman, dan lainnya. Mencintai Rasulullah saw adalah perwujudan dari mencintai Allah Ta'ala, demikian pula mencintai ulama dan orang-orang yang bertakwa, karena Allah Ta'ala mencintai mereka dan mereka juga mencintai Allah. Semua itu kembali kepada kecintaan yang asli dan tidak boleh melampauinya. Karena pada hakekatnya sama sekali tidak ada yang dicintai bagi orang-orang yang tajam pandangan mata hatinya kecuali Allah Ta'ala, dan sama sekali tidak ada yang berhak untuk dicintai kecuali Dia.

Mengagungkan derajat Nabi Muhammad saw

Mengagungkan derajat Nabi Muhammad saw berarti mengetahui ketinggian derajatnya, menjaga tatakrama dan sopan santun pada waktu menyebut nama beliau, dan mendengar nama serta hadits beliau, memperbanyak membaca salawat atas beliau, dan memusatkan perhatian dalam mengikuti sunnah beliau. Dalam surat al-Hujurat ayat 2 Allah swt berfirman:
يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَرْفَعُوْا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلاَ تَجْهَرُوْا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْتُمْ لاَ تَشْعُرُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian dari kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus pahala amalmu sedangkan kamu tidak menyadari.

Bakhil terhadap agama Islam

Bakhil terhadap agama berarti lebih senang dibunuh dan dimasukkan ke dalam api dari pada menjadi orang kafir, dan menyadari bahwa agama Islam adalah jauh lebih mulia dari pada semua harta dan anak-anaknya.
Umar bin Abdul Aziz pada waktu menjabat sebagai kepala negara telah mengirimkan sepasukan tentara untuk melawan serangan tentara Romawi. Dalam peperangan tersebut 20 orang tentara muslim ditawan oleh pasukan Romawi. Kaisar Romawi memerintahkan salah seorang dari tentara muslim yang ditawan untuk meninggalkan agama Islam dan memeluk agama kekaisaran Romawi serta menyembah tuhannya:
Kaisar: Hai orang muslim, jika kamu mau memeluk agamaku dan menyembah tuhan yang aku sembah, maka kujadikan kamu sebagai kepala pemerintahan di daerah yang besar. Aku akan memberimu: bendera, wanita penghibur, piala, dan terompet. Jika kamu tidak mau masuk agamaku, maka aku akan membunuh dan memenggal lehermu dengan pedang.
Tawanan: Aku tak akan menjual agama dengan harta benda dunia.
Kaisar lalu memerintahkan untuk membunuhnya. Tawanan tersebut dibawa ke alun-alun dan dipenggal lehernya dengan pedang. Setelah lehernya putus, kepalanya berputar mengelilingi alun-alun sambil membaca ayat al-Quran, al-Fajr 30:
يَآ اَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِى اِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِى فِى عِبَادِى وَادْخُلِى جَنَّتِى
Wahai jiwa yang tenang, kembalilah engkau kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridlai-Nya. Masuklah dalam kelompok hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.
Kaisar makin marah dan memerintahkan untuk mengambil tawanan yang kedua.
Kaisar: Masuklah ke agamaku, nanti kau kujadikan kepala pemerintahan di kota Anu. Jika engkau menolak, maka akan kupotong lehermu seperti kupotong leher temanmu.
Tawanan: Aku tidak akan menjual agama dengan harta benda dunia. Jika kamu mempunyai kekuasaan untuk memotong leherku, maka kamu tidak memiliki kekuasaan untuk memotong imanku.
Kaisarpun memerintahkan untuk memotong lehernya. Setelah putus, kepalanya berputar mengelilingi alun-alun tiga kali seperti kepala temannya sambil membaca ayat al-Quran, al-Haqqah 21-23:
فَهُوَ فِى عِيْشَةٍ رَاضِيَةٍ فِى جَنَّةٍ عَالِيَةٍ قُطُوْفُهَا دَانِيَةٌ
Maka dia telah berada dalam kehidupan yang diridlai, yaitu dalam surga yang tinggi, yang bebuahannya terjangkau.
Kaisar makin menjadi marah, dan memerintahkan untuk mengambil tawanan yang ketiga, seorang muslim yang celaka.
Kaisar: Apa yang akan kau katakan? Apakah engkau mau masuk agamaku dan akan kujadikan engkau seorang kepala pemerintahan?
Tawanan: Aku mau masuk agamamu dan memilih dunia dari pada akhirat.
Kaisar: Menteri, buatkan surat keputusan untuk tawanan ini. Berikan kepadanya wanita, piala, dan bendera.
Menteri: Baginda Kaisar, katakanlah kepadanya: "Jika engkau orang yang jujur dalam ucapanmu, bunuhlah salah seorang dari temanmu, agar kami dapat mempercayai omonganmu."
Tawanan terkutuk itu mengambil salah seorang temannya dan membunuhnya di hadapan Kaisar Romawi.
Kaisar: Menteri, buatkan untuk dia SK Pengangkatan.
Menteri: Baginda Kaisar, hal ini tidak masuk akal bila Baginda membenarkan omongannya. Tawanan ini sudah tidak mau lagi memelihara hak saudaranya yang dia lahir dan dibesarkan bersamanya. Bagaimanakah dia akan dapat memelihara hak kita?
Kemudian Kaisar Romawi memerintahakan untuk memenggal leher tawanan yang celaka tersebut. Setelah lehernya putus, kepalanya berputar mengelilingi alun-alun sambil membaca ayat al-Quran, az-Zumar 19:
اَفَمَنْ حَقَّ عَلَيْهِ كَلِمَةُ الْعَذَابِ اَفَأَنْتَ تُنْقِذُ مَنْ فِى النَّارِ ؟
Apakah kamu hendak mengubah nasib orang-orang yang telah pasti ketentuan adzab atasnya? Apakah kamu akan menyelamatkan orang-orang yang berada dalam api neraka?
Kepala tawanan yang terkutuk tersebut berhenti di ujung alun-alun dan tidak berkumpul dengan kedua kepala temannya. Dia kembali menuju siksa Allah. Semoga Allah melindungi kita sekalian dari kesesatan. 

sumber :
http://ppssnh.malang.pesantren.web.id/cgi-bin/content.cgi/artikel/cabang_iman/05.single?seemore=y


                                       video penambah wawasan

Jumat, 10 Februari 2017


JANGAN BERDUSTA


   Jadilah orang yang berakal dan jangan berdusta. Engkau berkata "Aku takut kepada 'Azza wa Jalla," namun (mengapa) kau takut juga pada selain-Nya. Janganlah takut pada siapa pun, baik jin, manusia, maupun malaikat. Jangan takut pula pada apa pun, baik hewan yang berbicara maupun yang diam. Jangan takut dengan penderitaan di dunia, dan jangan takut pula pada siksa akhirat, tetapi takutlah pada Sang pemberi azab siksaan.
        Seseorang yang berakal tidak akan takut celaan orang di sisi Allah 'Azza wa Jalla. Ia bisu dari bicara selain Allah 'Azza wa Jalla. Baginya, seluruh manusia lemah, sakit, dan fakir. Orang yang seperti dialah yang disebut ulama yang bermanfaat ilmunya, ulama mendalami syara' dan hakikat islam. Mereka adalah tabib-tabib agama yang (bisa) merakit kembali keretakannya. Hai orang yang retak agamanya! Datanglah pada mereka hingga mereka bisa merakit tembali keretakannya. Yang menurunkan penyakit adalah juga yang menurunkan obat. Tentu saja, ia pula yang lebih mengerti tentang kemaslahatan daripada selainnya.
         Jangan kecam Allah 'Azza wa Jalla dalam segala tindakan-Nya (fi'l). Nafsu dirimulah yang harus dikecam dan dicela daripada selain-Nya. Katakan kepada nafsu, bahwa anugerah diperuntukkan bagi yang menaati dan tongkat (pukulan) diperuntukan bagi yang mendurhakai (maksiat). Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Dia akan merampasnya (ikhtiar dan duniawinya), jika memang ia bersabar (menghadapinya) makan Dia akan mengangkat (derajat)nya, membaguskan (taraf hidupnya), memberinya (anugerah), dan membuatnya kaya.
          Seorang laki-laki bertamu pada Abu Yazid al-Bisthami, kemudian lama menengok ke kanan dan kiri. Abu Yazid pun menegurnya, "Ada apa gerangan?"
          Ia menjawab "Aku ingin (mencari) tempat bersih untuk melaksanakan shalat."
          Abu Yazid langsung menukas, " Bersihkan hatimu dan barulah shalat sebagimana kehendakmu."
          Memang, riya' hanya bisa dideteksi oleh orang-orang yang ikhlas, sebab dulu mereka pernah terjebak di dalamnya hingga akhirnya selamat dan lolos darinya. Riya' adalah rintangan di tengah jalan kaum (sufi) yang mau tidak mau harus mereka sebrangi. Riya' ujub, dan kemunafikan termasuk anak-anak pernah setan yang dilemparkan kedalam hati.

  
sumber : Bekal-Bekal Menjadi Kekasih Allah, Syekh Abdul Qadir al-Jailani