Mengakui Nikmat-Nikmat Allah
sumber : http://www.saatnya.com/2015/10/kumpulan-dp-bbm-ayat-ayat-al-quran.html
Beruntunglah orang yang mengakui kenikmatan-kenikmatan Allah di hadapan-Nya dan menyandarkan semua hanya pada-Nya. Dia tinggalkan dirinya, sarana-sarana (duniawi), serta daya dan kekuatannya. Orang berakal adalah orang yang orang yang tidak menghitung-hitung amalan pada Allah dan tidak pula meminta balasan dari-Nya dalam segala kondisi.
Celakalah! Engkau sembah Allah 'Azza wa Jalla tanpa landasan ilmu. Engkau juga berzuhud tanpa ilmu, dan engkau ambil pula dunia tanpa ilmu. Itu adalah hijab dibalik hijab, murka diatas kemurkaan. Engkau tidak bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk, juga yang positif dan negatif bagimu. Engkau tidak pula mengetahui kawan dan lawan. Semua itu karena ketidakmengertianmu akan hukuman Allah 'Azza wa Jalla dan kemungkiranmu dari khidmat melayani para syekh. syekh-syekh amal dan ilmu-lah yang bisa menunjukanmu pada jalan al-Haqq 'Azza wa Jalla. Ucapan dahulu, baru tindakan.
Dengan ilmu, engkau akan sampai pada al-Haqq 'Azza wa Jalla. Dan, tidak ada orang yang sampai pada al-Haqq 'Azza wa Jalla, kecuali dengan ilmu. Zuhud menjauhi keduniaan dan berpaling darinya dengan segenap hati dan qalib (fisik). Seorang mutazahhid mengeluarkan dunia dari tangannya, sementara pezuhud sejati yang benar-benar berzuhud mengeluarkannya dari dalam hatinya. Mereka berzuhud meninggalkan dunia dengan segenap hati mereka. Sehingga, zuhud kemudian menjadi karakter mereka yang sudah mendarah-daging dalam lahir dan batin mereka. Api tabiat mereka telah padam, hawa kesenangan mereka telah terpecah-pecah, nafsu mereka diam dan tenang, serta keburukannya pun telah hilang.
Beruntunglah orang yang mengakui kenikmatan-kenikmatan Allah di hadapan-Nya dan menyandarkan semua hanya pada-Nya. Dia tinggalkan dirinya, sarana-sarana (duniawi), serta daya dan kekuatannya. Orang berakal adalah orang yang orang yang tidak menghitung-hitung amalan pada Allah dan tidak pula meminta balasan dari-Nya dalam segala kondisi.
Celakalah! Engkau sembah Allah 'Azza wa Jalla tanpa landasan ilmu. Engkau juga berzuhud tanpa ilmu, dan engkau ambil pula dunia tanpa ilmu. Itu adalah hijab dibalik hijab, murka diatas kemurkaan. Engkau tidak bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk, juga yang positif dan negatif bagimu. Engkau tidak pula mengetahui kawan dan lawan. Semua itu karena ketidakmengertianmu akan hukuman Allah 'Azza wa Jalla dan kemungkiranmu dari khidmat melayani para syekh. syekh-syekh amal dan ilmu-lah yang bisa menunjukanmu pada jalan al-Haqq 'Azza wa Jalla. Ucapan dahulu, baru tindakan.
Dengan ilmu, engkau akan sampai pada al-Haqq 'Azza wa Jalla. Dan, tidak ada orang yang sampai pada al-Haqq 'Azza wa Jalla, kecuali dengan ilmu. Zuhud menjauhi keduniaan dan berpaling darinya dengan segenap hati dan qalib (fisik). Seorang mutazahhid mengeluarkan dunia dari tangannya, sementara pezuhud sejati yang benar-benar berzuhud mengeluarkannya dari dalam hatinya. Mereka berzuhud meninggalkan dunia dengan segenap hati mereka. Sehingga, zuhud kemudian menjadi karakter mereka yang sudah mendarah-daging dalam lahir dan batin mereka. Api tabiat mereka telah padam, hawa kesenangan mereka telah terpecah-pecah, nafsu mereka diam dan tenang, serta keburukannya pun telah hilang.
Wahai pemuda! Zuhud model ini bukan keterampilan yang dipelajari, dan bukan pula sesuatu yang kauambil, lalu kaubuang. Akan tetapi, ia adalah jenjang langkah demi langkah yang dimulai dengan menatap wajah dunia. Dilihatnya dunia sebagaimana rupa dunia yang dilihat oleh orang-orang terdahulu dari para nabi dan rasul, juga para wali dan abdal yang setiap zaman tidak pernah kosong dari mereka. Pandangan mereka atas dunia sah dengan mengikuti para pendahulu dalam ucapan dan tindakan mereka.
Maka jika engkau mengikuti mereka, tentunya engkau akan melihat apa yang mereka lihat. Jika engkau mengikuti jejak mereka (para wali dan kau saleh) dalam sinergi ucapan dan tindakan, sepi dan keramaian, ilmu dan amal, rupa dan substansi, puasa seperti puasa mereka, shalat seperti shalat mereka, mengambil seperti pengambilan mereka (atas duniawi), mungkir seperti kemungkiran mereka (dari duniawi), dan mencintai mereka maka Allah 'Azza wa Jalla akan menganugerahimu cahaya. Dengan cahaya itu, engkau bisa melihat dirimu dan selainmu dengan jelas. Segala cela keburukan makhluk juga akan terlihat jelas, hingga kemudian engkau bisa berzuhud memungkiri diri dan segenap manusia.
Sumber : (Buku Bekal-Bekal MENJADI KEKASIH ALLAH oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani)









