Sabtu, 01 Desember 2018

Qada dan Qadar

Sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa qadha dan qadar itu sinonim (sama). Hal ini sesuai dengan pendapat sebagian ulama bahasa yang menafsirkan qadhar dengan qadha. Terdapat dalam kamus Al-Muhith, karangan Fairus Abadi, hal, 591. Qadhar adalah qadha dan ketetapan. Selesai
Syekh Ibnu Baz rahimahullah ditanya, “Apa bedanya antara qadha dan qadar? Maka beliau menjawab, “Qadha dan Qadar adalah satu. Sesuatu yang telah Allah tentukan dahulu dan ditakdirkan dahulu bisa dikatakan ini qadha dan bisa dikatakan ini qadar.”  (http://www.binbaz.org.sa/noor/1480)
Sebagian ulama lainnya berpendapat dengan membedakan di antara keduanya, sebagian berpendapat bahwa qadha lebih dahulu dari qadar. Qadha adalah apa yang Allah beritahukan dan ditentukan di masa azali. Sementara qadar adalah keberadaan makhluk yang sesuai dengan ilmu dan ketetapan tersebut.
Al-Hafid Ibnu Hajar dalam ‘Fathul Bari, (11/477) mengatakan, “Para ulama berpendapat, Qadha adalah hukum secara global di azali. Sementara qadar cabang dan perincian dari hukum tersebut.”
Beliau berkata di tempat lain, (11/149), “Qadha adalah ketetapan umum secara global di azali. Sementara qadar adalah hukum terjadinya cabang dari keumuman tersebut secara terperinci.”
Al-Jurjani dalam ‘Ta’rifat’ hal. 174 mengatakan, “Qadar adalah keluarnya sesuatu yang mungkin dari tidak ada menjadi ada. Secara berurutan dan sesuai dengan qadha’. Qadha di masa azali sementara qadar masih terus berlangsung. Perbedaan antara qadar dan qadha adalah bahwa qadha semua yang terdapt dalam lauhul mahfuz, terkumpul semuanya, dan qadar adalah keberadaannya secara terpisah pada sesuatu setelah ada persyaratannya.”
Pendapat kelompok lain dari kalangan ulama lawan dari pendapat ini. Mereka menjadikan qadar lebih dahulu dari qadha. Qadar adalah hukum dahulu di azali. Qadha adalah penciptaan.
Ragib Al-Asfahani dalam kitab Al-Mufradat, hal. 675 mengatakan, “Qadha dari Allah lebih khusus dari qadar, karena ia perincian dari takdir. Maka qadar adalah takdir sementara qadha adalah perincian dan penentuan. Sebagian ulama menyebutkan bahwa qadar posisinya seperti disiapkan untuk timbangan, dan qadha posisi seperti timbangan. Hal itu dikuatkan dengan firman Allah Ta’ala:
وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا
“Dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah Kami putuskan.” (QS. Maryam: 21)
كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا
“Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yagn sudah ditetapkan.” (QS. Maryam: 71)
وَقُضِيَ الأَمْرُ
“Dan perkaranya telah diputuskan.” (QS. Al-Baqarah: 210)
Maksudnya ketentuan. Sebagai peringatan bahwa telah terjadi yang tidak mungkin dihindarinya.”
Di antara para ulama ada yang memilih pendapat bahwa keduanya satu arti kalau berpisah. Kalau berkumpul dalam satu ungkapan masing-masing mempunyai makna tersendiri.
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Qadar dalam bahasa mempunyai arti penentuan (takdir). Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ(سور القمر: 49)
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al-Qamar: 49)
Dan Firman Allah Ta’ala:
فَقَدَرْنَا فَنِعْمَ الْقَادِرُونَ (سورة المرسلات: 23)
“Lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan.” (QS. Al-Mursalat: 23)
Sementara qadha dalam bahasa adalah hukum. Oleh karena itu kita katakan bahwa qadha dan qadar berbeda arti kalau berkumpul. Dan satu arti kalau berpisah. Sebagaimana yang dikatakan para ulama. Ia adalah dua kata, kalau berkumpul berbeda (artinya). Kalau berpisah, bersatu (artinya).
Kalau dikatakan ini adalah qadar Allah, maka ia mencakup qadha. Sementara kalau disebutkan semuanya, maka masing-masing mempunyai arti. Takdir adalah apa yang Allah Ta’ala takdirkan di masa azali untuk makhluk-Nya.
Sementara qadha adalah apa yang dengannya Allah tetapkan, apakah direalisasikan, dibatalkan atau dirubah. Maka dengan demikian, takdir lebih dahulu.
Kalau ada yang mengatakan, “Kapan kita katakan bahwa qadha adalah apa yang telah Allah tentukan pada makhluknya, baik direalisasikan, dibatalkan atau dirubuh, dan qadar lebih dahulu jika keduanya berkumpul, maka hal ini bertolak belakang dengan firman-Nya Ta’ala:
وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا (سورة الفرقان: 2)
“Dan Dia telah menciptaan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqan: 2)
Bahwa ayat ini, sisi zahirnya bahwa takdir itu setelah penciptaan.
Maka jawabnya adalah salah satu dari dua sisi, bahwa hal ini dari sisi tertib dalam penyebutan bukan dari sisi makna. Didahulukan penciptaan atas takdir, karena untuk menyesuaikan akhir ayat.
Tidakkah anda melihat bahwa Musa lebih utama dari Harun. Akan tetapi di dahulukan Harus atas Musa di surat Thaha dalam firman-Nya tentang para tukang sihir:
فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سُجَّدًا قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ هَارُونَ وَمُوسَى (سورة طه: 70)
“Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata, “Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa.” (QS. Thaha: 70)
Karena kesesuaian akhir ayat. Hal ini tidak menunjukkan bahwa yang terakhir dalam lafaz itu terakhir dalam posisinya.
Atau kita katakan bahwa takdir disini mempunyai arti menyamakan. Maksudnya dalam makhluk-Nya- sesuai dengan kadar tertentu. Seperti firman-Nya ta’la:
الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى (سورة الأعلى: 2)
“Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya).”(QS. Al-A’la: 2)
Sehingga takdir mempunyai arti menyamakan. Arti ini lebih dekat dari yang pertama. Karena tepat sesuai dengan Firman Ta’ala:
(الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى)
“Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya).”(QS. Al-A’la: 2). Maka tidak ada permasalahan.” (Syarh Aqidah Wasitiyah, 2/189)
Pembahasan dalam masalah ini sedikit sekali. Di belakang itu tidak ada faedah besar dan tidak terkait dengan amalan maupun keyakinan. Maksimal dalam hal litu hanya perbedaan definisi (ta’rif). Tidak ada dalil dari Kitab maupun sunah yang memperinci hal itu. Yang penting adalah beriman dengan rukun ini termasuk rukun yang agung diantara pilar (rukun) iman dan membenarkan hal itu.
Al-Khathabi rahimahullah dalam ‘Ma’alim Sunan’ (2/323) setelah menyebutkan bahwa setelah disebutkan bahwa qadar adalah takdir yang terlebih dahulu dan qadha itu adalah penciptaan.
Kumpulan pendapat dalam bab ini adalah qadha dan qadar, Keduanya satu kesatuan yang tidak terlepas satu sama lain. Karena salah satunya kedudukan dasar (asas) sementara yang lainnya membangun. Siapa yang mencoba untuk memisahkan di antara keduanya, maka dia telah merobohkan bangunan dan mencerai beraikannya.”
Syekh Abdul Aziz Ali Syekh ditanya, “Apa perbedaan antara qadha dan qadar?
Maka beliau menjawab, “Qadha dan qadar, di antara para ulama ada yang menyamakan keduanya dengan berpendapat bahwa qadha adalah qadar, qadar adalah qadha. Di antara mereka ada yang memisahkan dengan mengatakan, “Qadar lebih umum, sementara qadha lebih khusus. Qadar itu umum sementara qadha itu bagian dari qadar.
Masing-masing diwajibkan untuk mengimani semuanya, apa yang ditakdirkan Allah dan yang diqadha (putuskan) harus diimani dan dipercayainya.” (http://mufti.af.org.sa/node/3687)
Syekh Abdurrahman Mahmud mengatakan, “Tidak ada faedahnya memperdebatkan ini, karena bisa jadi ada kesepakatan bahwa yang satu sesuai yang lainnya. Maka tidak perlu dipermasalahkan dari pengertian salah satu yang menunjukkan yang lainnya.” (Al-Qadha wal Qadar Fi dhaui Al-Kitab dan Sunnah (qadha dan qadar dalam persepektif AL-Kitab dan Sunah), Hal. 44
Wallahu a’lam .
 Sumber : https://islamqa.info/id/answers/248750/apakah-ada-perbedaan-antara-qadha-dan-qadar
Ibu

Kedudukan Ibu Lebih Utama
Kita sudah memahami bersama mengenai wajibnya dan pentingnya berbakti kepada kedua orang tua1. Kemudian setelah itu, ketahuilah bahwa jika kita melihat dalil-dalil, kita temukan bahwa kedudukan ibu lebih utama.

Dalil-dalil mengenai lebih utamanya kedudukan ibu

Diantara dalil yang menunjukkan hal tersebut:
Dalil 1
Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi:
يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ
wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).
Syaikh Fadhlullah Al Jilani, ulama India, mengomentari hadits ini: “ibu lebih diutamakan daripada ayah secara ijma dalam perbuatan baik, karena dalam hadits ini bagi ibu ada 3x kali bagian dari yang didapatkan ayah. Hal ini karena kesulitan yang dirasakan ibu ketika hamil, bahkan terkadang ia bisa meninggal ketika itu. Dan penderitaannya tidak berkurang ketika ia melahirkan. Kemudian cobaan yang ia alami mulai dari masa menyusui hingga anaknya besar dan bisa mengurus diri sendiri. Ini hanya dirasakan oleh ibu” 2.
Al Harits Al Muhasibi juga menukil ijma’ bahwa kedudukan ibu lebih utama dari ayah. Walaupun ada sebagian ulama yang menukil adanya khilaf dalam hal ini. Yaitu sebagian ulama mengatakan kedudukan ayah dan ibu sama, dan ini disandarkan kepada pendapat Imam Malik. Namun insya Allah yang tepat adalah klaim ijma’ karena tegasnya dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut 3.
Dalil 2
Dari Miqdam bin Ma’di Yakrib radhiallahu’ahu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
نَّ اللَّهَ يوصيكم بأمَّهاتِكُم ثلاثًا، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بآبائِكُم، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بالأقرَبِ فالأقرَبِ
sesungguhnya Allah berwasiat 3x kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat” (HR. Ibnu Majah, shahih dengan syawahid-nya).
Dalil 3
Dari Atha bin Yassar, ia berkata:
عن ابنِ عبَّاسٍ أنَّهُ أتاهُ رجلٌ ، فقالَ : إنِّي خَطبتُ امرأةً فأبَت أن تنكِحَني ، وخطبَها غَيري فأحبَّت أن تنكِحَهُ ، فَغِرْتُ علَيها فقتَلتُها ، فَهَل لي مِن تَوبةٍ ؟ قالَ : أُمُّكَ حَيَّةٌ ؟ قالَ : لا ، قالَ : تُب إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، وتقَرَّب إليهِ ما استَطعتَ ، فذَهَبتُ فسألتُ ابنَ عبَّاسٍ : لمَ سألتَهُ عن حياةِ أُمِّهِ ؟ فقالَ : إنِّي لا أعلَمُ عملًا أقرَبَ إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ مِن برِّ الوالِدةِ
Dari Ibnu ‘Abbas, ada seorang lelaki datang kepadanya, lalu berkata kepada Ibnu Abbas: saya pernah ingin melamar seorang wanita, namun ia enggan menikah dengan saya. Lalu ada orang lain yang melamarnya, lalu si wanita tersebut mau menikah dengannya. Aku pun cemburu dan membunuh sang wanita tersebut. Apakah saya masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas menjawab: apakah ibumu masih hidup? Lelaki tadi menjawab: Tidak, sudah meninggal. Lalu Ibnu Abbas mengatakan: kalau begitu bertaubatlah kepada Allah dan dekatkanlah diri kepadaNya sedekat-dekatnya. Lalu lelaki itu pergi. Aku (Atha’) bertanya kepada Ibnu Abbas: kenapa anda bertanya kepadanya tentang ibunya masih hidup atau tidak? Ibnu Abbas menjawab: aku tidak tahu amalan yang paling bisa mendekatkan diri kepada Allah selain birrul walidain” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya shahih).
Dan telah dikenal bahwa metode Ibnu Abbas jika dimintai fatwa mengenai kafarah dosa, beliau akan menyarankan dengan amalan yang pahalanya benar-benar seimbang dosa tersebut atau lebih besar pahalanya dari dosa yang ditanyakan, hingga dosa tersebut hilang sama sekali. Selama tidak ada nashkhusus mengenai kafarah dosa yang ditanyakan 4. Dan ini menunjukkan bahwa pahala berbakti kepada orang tua terutama kepada ibu itu sangat besar hingga seimbang dan menjadi kafarah dosa membunuh tanpa hak atau bahkan melebihinya sehingga dosa tersebut hilang sama sekali.
Dalil 4
Mengenai kisah Uwais Al Qorni yang sampai-sampai sahabat Nabi sekelas Umar bin Khathab radhiallahu’anhu dan yang lainnya dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk menemui Uwais. Hal ini disebabkan begitu hebatnya birrul walidain Uwais terhadap ibunya. Nabi bersabda:
إن خيرَ التابعين رجلٌ يقالُ له أويسٌ . وله والدةٌ . وكان به بياضٌ . فمروه فليستغفرْ لكم
sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang lelaki bernama Uwais, ia memiliki seorang ibu, dan ia memiliki tanda putih di tubuhnya. Maka temuilah ia dan mintalah ampunan kepada Allah melalui dia untuk kalian” (HR. Muslim).
Dalil 5
Hadits panjang yang dikeluarkan Imam Muslim dalam Shahih-nya mengenai kisah Juraij. Yang intinya ketika Juraij dipanggil oleh ibunya sedangkan ia sedang shalat, Juraij lebih mementingkan shalatnya dan tidak memenuhi panggilan ibunya. Akhirnya ibunya mendoakan keburukan padanya dan terkabul.
Imam An Nawawi dalam Syarah Muslim mengatakan: “Para ulama mengatakan: ‘ini dalil bahwa yang benar adalah memenuhi panggilan ibu, karena Juraij sedang melakukan shalat sunnah. Terus melanjutkan shalat hukumnya sunnah, tidak wajib. Sedangkan menjawab panggilan ibu dan berbuat baik padanya itu wajib, dan mendurhakainya itu haram'”.
Kesimpulannya, dari dalil-dalil ini, para ulama mengatakan:
الأم أحق الناس بحسن الصحبة
Ibu adalah orang yang paling layak untuk mendapatkan perlakuan yang paling baik

Pertanyaan: jika opini ibu bertentangan dengan opini ayah, maka siapa yang diambil opininya?

Jika ayah dan ibu memberikan opini kepada anak dan opini mereka saling bertentangan, maka opini siapa yang diambil? Dijawab Syaikh Musthofa Al ‘Adawi: “Yang diambil opininya adalah yang lebih sesuai dengan kebenaran dan lebih dekat kepada ketaqwaan dan ihsan. Adapun jika tidak bisa dibedakan mana opini yang lebih shahih, maka jika perkaranya terkait dengan sikap atau perlakuan baik, maka ibu didahulukan. Adapun jika perkaranya terkait dengan hal umum yang memang bidangnya para lelaki maka opini ayah didahulukan. Wallahu a’lam” 5.

Pertanyaan: jika ayah dan ibu saling berselisih, apa yang semestinya dilakukan anak?

Syaikh Musthofa Al ‘Adawi mengatakan: “jika anak mendapati ayah dan ibu saling berselisih, maka wajib baginya untuk mendamaikan keduanya dengan cara yang baik, karena perdamaian itu lebih baik. Dan hendaknya tidak membela salah satunya dengan tangan atau dengan lisan. Yang benar adalah mendamaikannya dengan baik. Allah Ta’ala berfirman:
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al Isra: 23)” 5.
Demikian, semoga yang sedikit ini bermanfaat. Semoga Allah melimpahkan hidayahnya kepada kita semua agar menjadi insan yang berbakti dengan sungguh-sungguh kepada orang tua. Wabillahi at taufiiq was sadaad.
***
Referensi: Fiqhul Ta’amul ma’al Walidain, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi
Penyusun: Yulian Purnama
Artikel Muslim.or.id

Siapa tak Rindu Ramadhan ?

Siapa Tak Hendak Rindu Ramadhan?

RINDU adalah gelegak hati untuk segera berjumpa dengan yang kita cintai. Maka, “Rindu Ramadhan” memuat isyarat bahwa kita mencintai Ramadhan dan berharap segera bisa menemuinya. Jika kemudian kita bisa “bercengkerama” dengan Ramadhan sesuai syariat Islam, maka mendambakan pintu Ar-Rayyan di Surga kelak membuka untuk kita, insya–Allah bukanlah sebuah mimpi.
Posisi dan Janji
Bagi kaum beriman, Ramadhan itu bak seorang kekasih. Lihatlah, kehadiran Ramadhan selalu ditunggu-tunggu dan kebersamaan dengannya diharapkan berlangsung lama. Maka tak mengherankan jika pada saatnya harus berpisah dengan Ramadhan, banyak kaum beriman yang bersedih.
Sikap seperti yang tergambar di atas, sangat bisa dimengerti jika kita hubungkan dengan berbagai keistimewaan Ramadhan. Mari, kita baca ulang sebagian di antaranya.
Pertama, tentang “Madrasah Ramadhan dan Lulusannya”. Di Ramadhan, kita wajib berpuasa agar kita menjadi taqwa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS Al-Baqarah [2]: 183).
Sementara, di hadapan Allah, posisi sebagai manusia paling mulia hanya boleh ditempati oleh orang-orang yang paling bertaqwa. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu” (QS Al-Hujurat [49]: 13). Maka, jika demikian, siapa tak hendak rindu dengan Ramadhan?
Kedua, tentang “Janji Pengampunan”. Bahwa, atas semua dosa yang diperbuat manusia, Allah jadikan puasa Ramadhan sebagai media penghapusnya. ”Barang-siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni” (HR Bukhari – Muslim). Maka, jika demikian, siapa tak hendak rindu dengan Ramadhan?
Ketiga, perihal “Pahala yang Dilipatgandakan”. Di dalam Ramadhan besar pahala berlipat-lipat ketimbang di luarnya: “Setiap amal anak keturunan Adam dilipatgandakan. Tiap satu kebaikan sepuluh lipat hingga tujuh ratus lipat gandanya” (HR Bukhari – Muslim). Tak hanya itu, amalan-amalan sunnah pahalanya senilai amalan wajib. Maka, jika demikian, siapa tak hendak rindu dengan Ramadhan?
Keempat, soal “Pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup”. Perhatikanlah! “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu” (HR Bukhari – Muslim). Maka, jika demikian, siapa tak hendak rindu dengan Ramadhan?
Kelima, tentang “Puasa sebagai ibadah istimewa”. Cermatilah Hadits Qudsi ini: “Semua amal perbuatan anak Adam untuk dirinya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya” (HQR Bukhari). Maka, jika demikian, siapa tak hendak rindu dengan Ramadhan?
Keenam, perihal “Doa yang dikabulkan”. Ada perlakuan khusus bagi doa yang dipanjatkan oleh mereka yang sedang berpuasa. “Tiga kelompok yang tidak akan ditolak doanya: Orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan orang yang teraniaya. Allah menyibak awan dan membuka pintu-pintu langit seraya berfirman: ‘Demi kemulian-Ku dan keagungan-Ku, pasti Aku tolong kamu, walau setelah beberapa waktu’.” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi). Maka, jika demikian, siapa tak hendak rindu dengan Ramadhan?
Ketujuh, tentang “Lailatul Qadar”. Di Ramadhan ada malam yang sangat mulia karena nilainya lebih dari seribu bulan. “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (QS Al-Qadr [97]: 3). Maka, jika demikian, siapa tak hendak rindu dengan Ramadhan?
Kedelapan, tentang “Terbinanya optimisme yang tak berkesudahan”. “Setiap orang berpuasa selalu mendapat dua kegembiraan, yaitu tatkala berbuka puasa dan saat bertemu dengan Tuhannya” (HR Bukhari). Maka, jika demikian, siapa tak hendak rindu dengan Ramadhan?
Kesembilan, soal “Masuk surga melalui pintu khusus, Ar-Rayyan”. Cermatilah! “Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut Ar-Rayyan yang akan dilewati oleh orang-orang yang berpuasa pada Hari Kiamat nanti. Tidak diperbolehkan seseorang melewatinya selain mereka. Ketika mereka dipanggil, mereka akan segera bangkit dan masuk semuanya kemudian ditutup” (HR Bukhari). Maka, jika demikian, siapa tak hendak rindu dengan Ramadhan?
Di Surga pintu-pintunya punya nama seperti Pintu Shalat, Pintu Haji, Pintu Jihad, Pintu Sedekah, dan Pintu Ar-Rayyan. Pintu Shalat diperuntukkan bagi yang banyak melakukan shalat. Pintu jihad untuk yang banyak berjihad. Pintu Sedekah untuk yang banyak bersedekah. Sementara, Pintu Ar-Rayyan khusus bagi yang berpuasa.
Pintu Ar-Rayyan istimewa. Pintu ini akan ditutup setelah orang terakhir –pengamal puasa- masuk. Pintu ini –sekali lagi adalah pintu khusus- hanya untuk yang berpuasa dan akan ditutup setelah semua yang berhak masuk. Hal ini menunjukkan keistimewaan puasa. “Sesungguhnya di Surga ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan.
Orang-orang yang berpuasa di Hari Kiamat masuk dari pintu itu. Tidak dibolehkan seorangpun memasukinya selain mereka. Lalu dikatakan, ‘Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Merekapun bangkit, dan tidak ada seorangpun yang masuk kecuali dari mereka. Ketika mereka telah masuk, (pintunya) ditutup dan tidak seorangpun masuk lagi” (HR Bukhari – Muslim).
Alhasil, ketika kita tahu berbagai keutamaan (puasa) Ramadhan, maka pasti kita merindukan kehadirannya dan lalu berpuasa di dalamnya dengan sepenuh semangat. Bersemangat, antara lain dengan berusaha untuk menjalankan puasa agar sesuai dengan apa yang telah Rasulullah Saw contohkan.
Puasa yang kita amalkan dengan segenap semangat insya-Allah akan menaikkan derajat kualitasnya. Maka, di titik ini, dengan terus berusaha menjauhkan sikap riya’, berhak kiranya jika membayangkan bahwa nama kita akan masuk dalam daftar mereka yang boleh melalui pintu eksklusif di Surga yang bernama Ar-Rayyan.
Andai Bisa
Sekarang ini, ketika kita berada di pekan terakhir Sya’ban, rindu bertemu Ramadhan insya-Allah akan segera tertunaikan. Kita bergembira. Lalu, kelak ketika 1 Syawal tiba, kaum beriman yang faham akan keutamaan Ramadhan akan tertunduk sendu: “Duh, andai Ramadhan itu berlangsung sepanjang tahun.” Rindu daku, selalu! []
Sumber : https://www.google.co.id/amp/s/www.islampos.com/amp/siapa-tak-hendak-rindu-ramadhan-23120/
Agar Terhindar dari Fitnah Dajjal
Dajjal merupakan satu nama yang sangat akrab bagi umat Islam. Dajjal disebut dalam sejumlah literatur Islam, dan identik dengan narasi tentang akhir zaman.
Kemunculan Dajjal belum dapat dipastikan hingga saat ini. Sejumlah literatur pun hanya menyebut Dajjal akan muncul di akhir zaman.
Tatkala kemunculannya nanti, Dajjal menyebarkan fitnah hingga membuat manusia tersesat. Bahkan, umat manusia akan kesulitan membedakan mana yang benar dan patut menjadi pegangan dengan mana yang salah.
Dahsyatnya fitnah Dajjal hampir tidak bisa ditangkal. Tetapi, Rasulullah mengajarkan sebuah doa kepada umat Islam untuk berlindung dari fitnah Dajjal ini.
Abu Hurairah RA mengingatkan umat Islam agar membaca doa ini di penghujung sholat, yaitu saat tasyahud akhir sebelum salam.

Dajjal merupakan fenomena akhir zaman.
Dajjal merupakan fenomena akhir zaman.
Allaahumma inni a’uudzubika min ‘adzaabil qabri wa min ‘adzaabinnaari jahannama wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wa min fitnatil masiihid dajjaal.
Artinya:
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari adzab Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari keburukan fitnah Dajjal."
Sumber: Dream.co.id

Faedah Surah Yasin

perlu dipahami, manusia hanyalah pemberi peringatan atau mengajarkan ilmu. Namun untuk membuat seseorang menjadi baik dan dapat hidayah adalah wewenang Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (7) إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ (8) وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ (9) وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (10) إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ (11)
Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (QS. Yasin: 7-11)
Faedah penting dari ayat di atas adalah siapa yang mengamalkan isi Al-Qur’an (diambil dari faedah ayat sebelumnya) dan punya rasa takut yang besar pada Allah adalah sebab ia mudah masuk surga.
Penentangan adalah penghalang bagi seseorang untuk mendapatkan hidayah. (Al-Mukhtashar fi At-Tafsir, hlm. 440)
Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa orang mudah menerima kebenaran memiliki dua sifat:
  • Punya niatan yang baik dalam mencari kebenaran.
  • Takut pada Allah. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 734)

Kalau kita kaji, ada tiga sebab utama kenapa kebenaran itu ditolak oleh seseorang:

1- Kebodohan

Kebodohan adalah penghalang terbesar bagi seseorang untuk menerima kebenaran.

2- Adanya kepentingan duniawi yang lebih ingin dikejar

Seperti Heraklius yang sebenarnya menerima kebenaran Islam, namun karena kepentingan duniawi yaitu takut pengikutnya lari, akhirnya ia pun mengurungkan niatnya untuk masuk Islam.

3- Hasad (benci akan nikmat yang ada pada orang lain)

Sifat ini yang membuat Iblis enggan sujud pada Adam ‘alaihis salam. Penyakit ini punya yang menyebabkan orang Yahudi enggan beriman pada Isa bin Maryam. Begitu pula ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka hasad pula sehingga lebih memilih kafir daripada keimanan. Nabi Isa sebenarnya datang untuk menyempurnakan ajaran yang ada pada Taurat. Ada ajaran Nabi Isa yang memberikan keringanan dengan menghalalkan hal yang sebelumnya dilarang sebagai bentuk kasih sayang. Tentu sikap mereka dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih menolak dengan keras karena Nabi Muhammad membawa syari’at baru yang berdiri sendiri dan menghapus syari’at sebelumnya.
Demikian kami ringkaskan dari penjelasan Ibnul Qayyim dalam Hidayah Al-Hayara fi Ajwibah Al-Yahud wa An-Nashara, hlm. 16.
Nasihat di atas sangat bermanfaat bagi setiap yang berdakwah …
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Referensi:

Al-Mukhtashar fi At-Tafsir. Penerbit Markaz Tafsir li Dirasah Al-Islamiyyah.
Hidayah Al-Hayara fi Ajwibah Al-Yahud wa An-Nashara. Muhammad bin Abu Bakr Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Al-Jami’ah Al-Islamiyyah Al-Madinah Al-Munawwarah.
Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 25 Dzulqa’dah 1436 H
Artikel Rumaysho.Com
Ghibah di Dunia Politik Saat ini

Apa itu ghibah?


Kita bisa pahami artinya dari hadits berikut.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ»
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim, no. 2589).
Secara bahasa ghibah berasal dari kata al-ightiyab, yang artinya tertutup, di mana sesuatu tertutup dari pandangan.
Pengertian paling bagus tentang ghibah secara istilah adalah menyebut-nyebut aib tanpa orang lain yang disebut itu ada (dzikrul ‘aibi bi zhahril ghaibi). Hal ini dinyatakan oleh Imam Al-Munawi rahimahullah.

Sebab ghibah dan faktor pendorongnya


Kata Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam Ihya’ Al-‘Ulumuddin, sebab ghibah adalah:
Pertama: Untuk meredam marah lantas menyebut aib orang lain yang mengghibahnya.
Kedua: Untuk bahan candaan ketika kumpul-kumpul.
KetigaSuuzhan atau berprasangka buruk pada orang lain.
Keempat: Orang yang mengghibah ingin berlepas diri dari aib dan ia menyatakan aib tersebut pada orang lain serta menyebut lainnya sama dengannya.
Kelima: Mengangkat diri sendiri dengan merendahkan orang lain.
Keenam: Hasad pada orang yang dipuji oleh orang lain dan akhirnya ia menyebut dirinya sendiri dengan kebaikan.
Ketujuh: Bahan istihza’ (mengolok-olok) dan merendahkan orang lain.

Bentuk ghibah itu bagaimana?


Dikatakan dalam Majma’ Al-Anhar (2:552), segala sesuatu yang ada maksud untuk mengghibah termasuk dalam ghibah dan hukumnya haram.
Imam Nawawi mengatakan dalam kitabnya Al-Adzkar, “Cara ghibah bisa jadi melakui lisan, tulisan, isyarat, atau bermain isyarat dengan mata, tangan, kepala atau semisal itu.”

Dosa ghibah seperti makan bangkai saudaranya sendiri


Dalam ayat disebutkan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Mengghibah sebagai nasihat masih boleh


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyarankan pada Fatimah binti Qais radhiyallahu ‘anha untuk menikah dengan Usamah, dibanding dengan dua laki-laki yang telah melamarnya yaitu Mu’awiyah dan Abu Jahm. Beliau berkata pada Fatimah,
أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلاَ يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتَقِهِ وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لاَ مَالَ لَهُ انْكِحِى أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ ».فَكَرِهْتُهُ ثُمَّ قَالَ « انْكِحِى أُسَامَةَ ». فَنَكَحْتُهُ فَجَعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا وَاغْتَبَطْتُ بِهِ.
“Abu Jahm itu biasa memukul istri. Sedangkan Mu’awiyah itu miskin (tidak punya banyak harta). Nikahlah saja dengan Usamah bin Zaid.” Fatimah berkata, “Aku awalnya enggan.” Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap mengatakan, “Nikahlah dengan Usamah.” Akhirnya, aku memilih menikah dengan Usamah, lantas Allah mengaruniakan dengan pernikahan tersebut kebaikan. Aku pun berbahagia dengan pernikahan tersebut. (HR. Muslim, no. 1480).

Tinggalkan majelis ghibah


Allah Ta’alaberfirman,
وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ
Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.” (QS. Al-Qashash: 55)

Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …

Tinggalkan kita renungkan saja dunia politik saat ini, apakah termasuk nasihat ataukah ghibah ataukah fitnah, apa kita mau terus-terusan habiskan waktu terjun di dalamnya jikalau itu maksiat? Silakan pikirkan!
Yang lebih baik kita perbuat saat ini adalah mendoakan baik untuk pemimpin-pemimpin kita. Moga kita mendapatkan pemimpin yang shalih dan dapat terus memperjuangkan hak-hak kaum muslimin.
Sebelum Tidur 
praktik yang kita bisa amalkan sebelum tidur, dan ada doa penting di dalamnya yang bisa diamalkan. Moga tidur kita bawa berkah.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Adzkar, Bab 249. Dzikir Ketika Menjelang Tidur

Hadits #1462

وَعَنِ البَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إِذَا أَتَيتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وَضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأيْمَن ، وَقُلْ : اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيَ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إليكَ ، وأَلْجَأتُ ظَهْرِي إلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرهْبَةً إِلَيْكَ ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ ، آمَنْتُ بِكِتابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ، فَإِنْ مِتَّ مِتَّ عَلَى الفِطْرَةِ ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُوْلُ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .
Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau telah bersiap tidur, berwudhulah seperti wudhu untuk shalat. Kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan, lalu ucapkanlah:
ALLOHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIK, WA WAJJAHTU WAJHIYAILAIK, WA FAWWADH-TU AMRII ILAIK, WA ALJA’TU ZHOHRII ILAIK, ROGH-BATAN WA ROHBATAN ILAIK, LAA MALJA-A WA LAA MANJAA MINKA ILLA ILAIK. AAMANTU BIKITAABIKALLADZI ANZALTA, WA BI NABIYYIKALLADZI ARSALTA.
Artinya:
‘Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, aku menghadapkan wajahku kepada-Mu, aku menyerahkan urusanku kepada-Mu, aku menyandarkan punggungku kepada-Mu, karena senang (mendapatkan rahmat-Mu) dan takut pada (siksaan-Mu, bila melakukan kesalahan). Tidak ada tempat perlindungan dan penyelamatan dari (ancaman)-Mu, kecuali kepada-Mu. Aku beriman pada kitab yang telah Engkau turunkan, dan (kebenaran) Nabi-Mu yang telah Engkau utus.’
Maka jika engkau mati pada malam ini, engkau mati dalam keadaan fitrah (tauhid, iman, dan Islam). Jadikan pula kalimat tersebut sebagai akhir perkataanmu.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 247, 6313 dan Muslim, no. 2710]

Faedah Hadits


  1. Hendaklah setiap orang yang mau tidur melakukan adab-adab seperti yang disebutkan dalam hadits, yaitu: berwudhu seperti wudhu untuk shalat, berbaring di atas tubuh yang kanan, lalu membaca doa yang disebutkan.
  2. Kita diperintahkan menyerahkan diri, menyerahkan segala urusan kita kepada Allah karena yang melindungi dan menyelamatkan kita hanyalah Allah.
  3. Siapa yang menyandarkan segala urusannya kepada Allah, Allah akan beri kecukupan.
  4. Manusia dalam beribadah hendaklah menghimpun raghbah (rasa harap) dan rahbah (rasa takut).
  5. Kita diperintahkan untuk meyakini dan mengimani kitab dan membenarkan Rasul yang membawa kitab tersebut.
  6. Membaca bacaan ini punya keutamaan, jika meninggal dunia dalam keadaan meyakini bacaan tersebut, maka akan mati di atas fitrah (tauhid, iman, dan Islam).
  7. Hendaklah berpegang pada lafazh seperti yang disebutkan dalam hadits, itu lebih utama.
Dalam kelanjutan hadits ini, Al-Bara’ bin ‘Azib menyebutkan,
فَرَدَدْتُهَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا بَلَغْتُ: آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، قُلْتُ: وَرَسُولِكَ ، قَالَ: لاَ ، وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ.
“Aku mengulangi bacaan tadi di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika sampai pada kalimat ‘AAMANTU BIKITAABIKALLADZI ANZALTA’, aku lanjutkan dengan ‘WA ROSUULIKA’.” Lalu Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan harusnya, “WA NABIYYIKALLADZI ARSALTA.” (HR. Bukhari, no. 247 dan Muslim, no. 2710)

Referensi:

  1. Adzkar Ash-Shabaah wa Al-Masaa’ Riwayatan wa Dirayatan. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath-Tharifi.
  2. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
Disusun saat safar hujan di Pogung Dalangan (Dasinem), Kamis sore, 21 Rabi’ul Awwal 1440 H
Artikel Rumaysho.Com